Satu Tentara Tewas di Waena, Kapolri: Yang Nyerang Duluan Bukan Aparat

Namun, Tito mengaku baik rektorat dan sejumlah mahasiswa Uncen menolak lantaran dinilai hendak melakukan upaya provokatif.

Suara.Com
Agung Sandy Lesmana | Ria Rizki Nirmala Sari
Satu Tentara Tewas di Waena, Kapolri: Yang Nyerang Duluan Bukan Aparat
Kapolri Jenderal Tito Karnian saat menggelar konferensi pers di kantor Kemenpolhukam. (Suara.com/Ria Rizki).

Suara.com - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengklaim kerusuhan berujung meninggalnya tiga warga sipil dan satu prajurit TNI di Expo Waena, Jayapura Papua bukan diawali oleh tindakan penyerangan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Tito justru menuding sekelompok massa yang lebih dahulu menyerang aparat keamanan hingga menyebabkan satu prajurit TNI meninggal dunia.

Tito menuturkan kerusuhan yang terjadi di Expo Waena bermula ketika ada sekelompok orang Papua pendatang yang hendak mendirikan posko di Universitas Cendrawasih (Uncen).

Namun, Tito mengaku baik rektorat dan sejumlah mahasiswa Uncen menolak lantaran dinilai hendak melakukan upaya provokatif.

Kemudian, aparat kemanan pun memfasilitasi sebuah truk untuk mengantar sekitar 300 orang Papua pendatang ke Expo Waena. Namun, setibanya di lokasi tiba-tiba mereka melakukan tindakan penyerangan terhadap aparat kemanan yang mengantarkannya.

"Begitu turun melihat jumlah anggotanya yang mengawal sedikit, lebih sedikit daripada yang kelompok ini 300 orang lebih ini, mereka menyerang," kata Tito saat jumpa pers di Gedung Kemenkopolhukam, Selasa (24/9/2019).

Akibat penyerangan yang dilakukan sekelompok orang Papua pendatang itu pun akhirnya satu prajurit TN Yonif 751/Raider, bernama Praka Zulkifli meninggal dunia setelah mengalami pendarahan akibat luka bacok di bagian kepala belakang.

Zulkifli sendiri tidak lain merupakan sopir yang mengendarai truk tatkala mengantarkan sekelompok orang Papua pendatang dari Uncen menuju Expo Waena.

"Yang pertama kali menyerang bukan petugas, yang pertama kali jadi korban adalah anggota TNI dari Batalyon gugur, dan dia yang menyopiri mereka," ujarnya.

Setelah itu, bentrokan pun terjadi antara sekelompok orang Papua tersebut dengan aparat keamanan. Hingga akhirnya menyebabkan tiga orang Papua pendatang itu meninggal dunia.

"Ada tiga orang yang kemudian meninggal dunia, kita sedang investigasi meninggal dunianya karena apa. Apakah karena pembelaan diri dengan tembakan atau mungkin karena serangan batu juga, karena memang lempar-lemparan batu," ungkapnya.

"Yang kita sesalkan ya sekali lagi, kalau punya perbedaan politik ya boleh-boleh saja tapi jangan menggunakan cara violance dan kekerasan. Karena di dalam negara demokrasi ini menggunakan cara-cara seperti itu pasti tidak akan selesai."

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini