Waspadai: Amonium nitrat dalam Airbag Bisa Meledak ...

Alasan ilmiah, mengapa Amonium nitrat sebaiknya tidak digunakan dalam produk otomotif.

Suara.Com
RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Konsep airbag mutakhir: saat terjadi benturan merobek wadah perlahan dan kantong pun mengembang aman. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].
Konsep airbag mutakhir: saat terjadi benturan merobek wadah perlahan dan kantong pun mengembang aman. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].

Suara.com - Airbag alias kantong udara berfungsi untuk melindungi penumpang saat benturan seperti tabrakan terjadi.  Terbuat dari bahan kain nilon tipis dan biasanya dilipat ke dalam kemudi atau dashboard.

Salah satu produsen airbag terkenal, Takata, yang telah tutup pada April 2018 dan diambilalih oleh OTC Markets Group, dahulu menggunakan amonium nitrat dalam memproduksi kantong udara penyelamat penumpang saat tabrakan itu.

Awalnya, perusahaan kantong udara kendaraan roda empat (R4) yang produknya digunakan oleh manufaktur-manufaktur otomotif kondang dunia ini menggunakan zat berupa senyawa kimia sodium azide.

Lalu pada 1998, Takata melaporkan telah menemukan zat baru yang lebih aman, yaitu tetrazole yang terdiri dari senyawa nitrogen dan karbon. Sayangnya, karena pembuatan tetrazole memakan biaya produksi tinggi, produsen airbag ini mengambil solusi yang lebih ekonomis. Yaitu menggunakan amonium nitrat.

Namun, rupanya airbag buatan Takata yang mengandung amonium nitrat malahan sangat berbahaya. Airbag ini memiliki inflator berpotensi meledak terlalu keras sehingga membahayakan nyawa manusia yang mestinya dilindungi.

Amonium nitrat sendiri adalah senyawa kimia berupa garam nitrat dari kation amonium. Disebutkan bahwa amonium nitrat atau NH4NO3 juga banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk.

Namun zat ini juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai campuran bahan peledak. Sekitar 80 persen bahan peledak yang digunakan di Amerika Serikat memakai zat tadi sebagai campurannya. Itulah alasan mengapa airbag buatan Takata berpotensi bisa meledak.

Dilansir dari Popular Science, dalam kasus Takata, ada banyak penyebab mengapa sebuah kantong udara bisa meledak. Di antaranya adalah terpapar panas yang tinggi dan kelembapan di wilayah tertentu selama bertahun-tahun.

Ilustrasi: Airbag. (Shutterstock)
Ilustrasi: Airbag [Shutterstock].

Panas dan kelembapan seperti itu sanggup membuat amonium nitrat bereaksi sehingga menciptakan tekanan yang berlebihan dan berpotensi meledak.

Zat ini memiliki sifat yang tidak stabil, terutama apabila terkena perubahan suhu. Ammonium nitrat mampu berubah dalam jangka waktu lama sehingga rusak karena pengaruh temperatur dan kelembapan. Ini yang menyebabkan tidak ada yang mau menggunakan amonium nitrat sebagai bahan kantung udara, kecuali Takata.

Amonium nitrat juga mudah menyerap uap air. Apabila hal ini terjadi maka zat itu akan berakselerasi dari bentuk padat menjadi gas dengan mudah.

Biasanya, sensor dalam kantong udara akan memberitahu kapan airbag harus mengembang. Yaitu jika terjadi tabrakan dengan kecepatan 16 hingga 24 km per jam.

Namun, body inflator airbag atau komponen mekanis pengembang kantong udara bisa pecah. Hal itu mampu membuat material komponen terpental sehingga berpotensi melukai pengemudi atau penumpang depan, saat airbag mengembang setelah terjadi tabrakan.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini