Inilah Teknologi Buat "Menunda" Jalanan Rusak

Jalanan dilewati kendaraan R2 dan R4 membuat retakan di sana-sini. Begini cara menunda kerusakannya.

Suara.Com
RR Ukirsari Manggalani
Inilah Teknologi Buat "Menunda" Jalanan Rusak
Contoh jalan rekah atau mengalami retak [Shutterstock].

Suara.com - Rusaknya sebuah ruas jalan raya biasanya berawal dari volume kendaraan, baik roda dua (R2) maupun roda empat (R4), yang melintas melebihi kekuatannya. Gejala awal adalah muncul rekahan atau retakan kecil di sana-sini. Tak nyaman dilewati, sudah pasti nantinya menjurus ke arah kerusakan pula.

Biaya perbaikan yang tinggi tak jarang menangguhkan upaya-upaya memperbaiki sebuah ruas jalan raya. Padahal di sisi lain, bila dibiarkan terus-menerus, retak-retak tadi akan semakin panjang.

Di luar Indonesia, telah dikembangkan cara merekatkan retakan-retakan atau rekahan kecil di ruas jalan raya. Tujuannya untuk "menunda" kerusakan jalan. Atau paling tidak menghentikan laju retakan, sampai tiba waktu dan tersedia biaya untuk memperbaikinya secara keseluruhan.

Di bawah ini adalah tautan untuk menonton langsung video tentang tips atau cara merekatkan alias menautkan kembali retak-retak di bagian jalan raya, demi menunda kerusakan secara total. Silakan langsung di-klik.

Rekatkan kembali jalan rekah [video: Cheddar Gadgets].
Rekatkan kembali jalan rekah [Video: Cheddar Gadgets].

Dalam video ini diberikan keterangan bahwa retakan di jalan mampu membuat air dan partikel-partikel kecil masuk ke dalam celah retakan yang terjadi. Bila dibiarkan, bisa dipastikan bahwa kondisi jalan ini bakal semakin parah.

Sebelum rusak, lebih baik direkatkan dengan teknologi sederhana. Dalam wadah khusus berpenggerak roda, dituangkan aspal sembari alat terus dijalankan mengikuti retakan atau rekahan yang terbentuk. Tujuannya untuk menutup celah di sepanjang ruas rusak, sehingga bisa mencegah masuknya air dan partikel-partikel kecil yang merusak aspal.

Keren bukan idenya?

Mobimoto.com/Praba Mustika

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini