Ada Perpres, Toyota Bakal Revisi Harga Model Hybrid

Bagi Toyota, Peraturan Presiden atau Perpres sangatlah ditunggu. Alasannya begini.

Suara.Com
RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Ada Perpres, Toyota Bakal Revisi Harga Model Hybrid
Toyota Crown Hybrid dipamerkan di Odaiba, Jepang pada Oktober 2018. [Shutterstock]

Suara.com - Toyota menjadi satu-satunya produsen otomotif yang paling gencar menghadirkan mobil listrik. Jajaran mobil ramah lingkungan yang ditawarkan antara lain, Alphard, Corolla Altis, Camry, dan C-HR.

Namun sayangnya, model-model yang ditawarkan masih berada di rentang harga Rp 500 juta ke atas.

Lalu berapa besar peluang mobil-mobil hybrid Toyota turun harga pasca Perpres mobil listrik diteken?

Menanggapi hal ini, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy mengatakan bahwa Toyota sendiri masih menunggu turunan aturan yang akan dikeluarkan oleh kementerian lain. Inilah hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan harga.

Toyota C-HR Hybrid yang diluncurkan di Jakarta (22/4/2019) [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].
Toyota C-HR Hybrid yang diluncurkan di Jakarta (22/4/2019) [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].

"Memang Perpres sudah keluar, namun di dalam Perpres belum dicantumkan dengan jelas mengenai peraturan apakah ada perubahan di insentif PPnBM dan lain-lain," kata Anton Jimmi Suwandy, di Jakarta.

Terlebih, tambahnya, mobil-mobil hybrid yang ada memang masih diimpor dari negara tetangga. Salah sstunya Corolla Altis, yang didatangkan secara utuh atau Completely Built-UP (CBU) dari Thailand.

"Harga tergantung masalah pajak. Kita lagi menunggu, mudah-mudahan segera peraturan Co2 keluar. Tinggal kita lihat berlakunya kapan," papar Anton Jimmi Suwandhy.

Ia pun berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk mempercepat kendaraan elektrifikasi.

"Kedua, bagaimana dengan peraturan daerah. Ada BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), misalnya Jakarta naik 12,5 persen, Jawa Barat 12,5 persen. Tapi apakah mungkin mobil elektrifikasi BBNKB jangan 12,5 persen, tapi 10 persen. Kalau itu bisa akan membantu gap antara mobil biasa (dengan) hybrid," tutup Anton Jimmi Suwandy.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini