Menuju Era KBL, Inilah Penawaran Solusi Robotik

Hadirnya KBL serta mobil hybrid dalam dunia otomotif sangat mumpuni bila dibantu kinerja robotik.

Suara.Com
RR Ukirsari Manggalani
Menuju Era KBL, Inilah Penawaran Solusi Robotik
Robot-robot yang digunakan sebuah pabrik mobil. Sebagai ilustrasi [Shutterstock]

Suara.com - ABB (Allmänna Svenska Elektriska Aktiebolaget atau General Swedish Electrical Limited Company/ASEA Brown Boveri) sebuah perusahaan robotik milik Swedia dan Swiss menawarkan solusi robotik bagi pembuatan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) serta mobil tenaga hybrid.

Dikutip dari pertemuan "Dassault Systemes: Manufacturing in the Age of Experience" pada pekan lalu (17-18/9/2019) di Shanghai, China, Michael Larsson, Group Vice President Head of Robot System dari perusahaan ABB menyatakan bahwa diprediksi pada 2030 sebesar lebih dari 50 persen mobil baru bakal dijual di Asia. Dan lebih dari 200 model kendaraan listrik dan hybrid akan booming dalam tiga tahun ke depan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) didampingi pembalap Sean Gelael (kiri) berada dalam mobil listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Jumat (20/9). [Suara.com/Arya Manggala]
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) didampingi pembalap Sean Gelael (kiri) berada dalam mobil listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Sebagai ilustrasi pe,buatan mobil listrik dengan teknologi robotil [Suara.com/Arya Manggala]

Tambahan lagi, tunggangan swakemudi mulai lebih aktif diuji coba, ride sharing atau transportasi dalam jaringan atau online juga mengalami kemajuan yang mencapai titik impas bisnis dalam lima tahun terakhir.

Michael Larsson memaparkan bahwa revolusi industri otomotif adalah gambaran besar dari lanskap industri yang berkelanjutan, di mana pabrikan mobil tidak bisa bekerja sendiri seperti di masa lalu. Namun perlu menggandeng beberapa pendukung.

Sebagai contohnya pembuatan KBL. Selain membuat bodi sendiri, pihak pabrik perlu bekerja sama atau berkolaborasi dengan industri baterai, drivetrain listrik, dan produsen komponen pendukung lainnya.

Lantas dari sisi perakitan, para produsen juga harus mengubah strukur rangka kendaraan. Seperti menghilangkan tangki bahan bakar, kemudian menyiapkan ruang untuk baterai. Karena itu, perubahan industri otomotif terdampak langsung pada pabrikan yang mau tidak mau mesti mengubah alat-alat produksinya untuk mengikuti tren pasar.

Dari sinilah ABB memutuskan untuk membuka pabrik baru di China atas dasar potensi pasar yang besar. Negeri Tirai Bambu ini adalah pasar mobil terbesar di dunia. Prestasinya menjual lebih dari 28 juta mobil pada 2018, bila mengacu data China Association of Automobile Manufacturers.

Ia berharap, kehadiran pabrik robot itu dapat membantu pabrikan otomotif dan manufaktur lainnya, agar lebih fleksibel dalam menangkap perubahan di masa depan. Artinya, sistem kerja robot bisa disesuaikan dengan kebutuhan pabrik, tanpa perlu menambah fasilitas produksi yang memakan biaya.

Dan dengan penggunaan robot, maka dapat menciptakan kinerja dan produksi yang konsisten, sehingga bisa memenuhi kebutuhan pelanggan secara lebih cepat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini