Jum'at, 14 Desember 2018

Karya Gusmen Heriadi akan Dipamerkan di Ciptadana Art 2018

Sumber daya yang terbatas, terancam habis akibat gengsi yang tak terbatas.

Suara.Com
Fabiola Febrinastri
Salah satu hasil karya Gusmen Heriadi. (Dok:  Ciptadana Art Program)
Salah satu hasil karya Gusmen Heriadi. (Dok: Ciptadana Art Program)

Suara.com - Tahun ini, Ciptadana Art Program kembali hadir dan menampilkan karya-karya dari seniman asal Sumatera Barat yang kini menetap dan berkarya di Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusmen Heriadi. Gusmen Heriadi lahir pada 1974 di Pariaman, Sumbar dan lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) pada 2005.

Sebagian besar objek yang diangkat oleh Gusmen di dalam karya-karyanya merupakan wujud metafora dari perasaan dan perdebatan mengenai isu budaya dan tradisi dalam kehidupan modern bermasyarakat. Sebagian besar karya yang diciptakannya adalah bukti nyata dari beragam impian, tanggapan perihal kehidupan dan pandangan filosofis sang seniman.

Pemikiran filosofis dan kritis yang ditampilkan dalam karya-karyanya merupakan hasil perkembangan kultur dan budaya, yang disertai kebiasaan sehari-hari dan pengaruh dari luasnya pergaulan seni dan proses pembelajarannya.

Kurator seni pameran Ciptadana Art Program, Emmo Italiander, mengatakan, pihaknya antusias menyajikan karya-karya Gusmen.

“Sebagaimana kami kerap menampilkan dari tahun ke tahun, Ciptadana Art program kembali hadir dalam mempromosikan dialog yang menjembatani komunitas bisnis di Indonesia dan dunia seni yang dinamis. Gusmen kerap menampilkan karyanya dalam dua dekade terakhir, dan kami sangat antusias untuk menampilkan karya-karya sang seniman dalam program kami tahun ini.”

Dalam karyanya saat ini, Gusmen mengeksplorasi kebanggaan identitas manusia dan bagaimana kebanggaan tersebut berdampak pada lingkungan dan kehidupan makhluk lainnya melalui pendefinisian dari segi ‘esensi’ dan‘status’. Sang seniman mengilustrasikan ‘esensi’ sebagai sesuatu yang mendefinisikan manusia dan semua makhluk hidup di sekitarnya.

Apa sajakah hal yang membentuk kita? Apa yang memisahkan kita? Apa yang kita bagikan, dan tentu saja, apa yang kita abaikan?

Sikap dan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup harus sama.

“Semua hewan memang setara, tapi beberapa lebih setara daripada yang lainnya,” lanjutnya.

Bagi sebagian besar manusia, status menggambarkan posisi mereka di dalam komunitas dan kehidupan bermasyarakat, baik berupa keberhasilan, pencapaian, ataupun kepemilikan. Bagi hewan, status bersifat lebih kritis karena menentukan posisi mereka pada rantai evolusi dan kesintasan; terancam, dihargai atau bahkan rentan.

Dalam upaya meraih status yang seringkali dilakukan dengan segala cara, manusia bisa keliru menerapkan nilai menurut persepsi nilai sejati, sehingga mengorbankan dan menguras sumber daya yang berharga, atau bahkan seluruh spesies dalam upaya untuk membuat manusia lain terkesan dan memanjakan ego mereka sendiri.

Sumber daya yang terbatas, terancam habis akibat gengsi yang tak terbatas.

Gusmen menjelaskan, “Pada akhirnya, perilaku seperti ini yang saya amati, menyebabkan kelelahan dalam menghadapi kesia-siaan yang tak terbatas. Baik ‘esensi’ maupun ‘status’ menentukan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita."

Selain Emmo, Sudjud Dartanto juga menjadi kurator penampilan seni ini. “DeepSkin – SkinDeep” yang ditampilkan oleh Ciptadana Art Program tahun ini memberi kesempatan bagi para pecinta seni di Indonesia untuk berbagi pikiran, ide, dan impian dengan seniman Gusmen Heriadi.

Pameran dibuka untuk umum mulai Kamis (22/11/2018) hingga Jumat (14/12/2018) setiap hari, pada 09.00 - 17.00 WIB, di Ciptadana Art Space, lantai 5, Gedung Ciptadana Center.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini