Selasa, 11 Desember 2018

KPPPA Ajak Masyarakat Bersahabat dengan Anak HIV AIDS

Ini alasan KPPPA mengajak masyarakat bersahabat dengan ODHA (orang dengan HIV dan AIDS).

Suara.Com
Silfa Humairah Utami | Vessy Dwirika Frizona
ilustrasi peduli dengan ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). (Shutterstock)
ilustrasi peduli dengan ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). (Shutterstock)

Suara.com - HIV dan AIDS merupakan salah satu penyakit yang dianggap momok saat ini, pengidap HIV dan AIDS tidak hanya pada orang dewasa namun juga anak-anak.

Efek merusaknya memang membahayakan, namun stigma negatif dan pemahaman salah kaprah yang berkembang mengenai penyakit ini bahkan jauh lebih merusak, karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai cara penularannya.

Diperlukan kehadiran negara dan keterlibatan masyarakat, dalam mencegah HIV dan AIDS serta bagaimana mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi dan stigmatisasi kepada Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) dan Anak Dengan HIV dan AIDS (ADHA).

“Sungguh disayangkan pengidap terbanyak pada usia produktif antara 20 – 30 tahun. Pasca 2016, situasi menjadi semakin memprihatinkan dan makin mengkhawatirkan karena ditemukan faktor penyebab “Tak Diketahui” yang menjadi lebih dominan," ungkap Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Dermawan melalui siaran pers yang diterima Suara.com.

Dalam kegiatan Kampanye Bersama Kilau Generasi Bebas HIV dan AIDS di Kota Semarang, Prov. Jawa Tengah itu, ia memberi contoh terungkapnya isu degradasi moral kemanusian, seperti longgarnya kesetiaan dalam hubungan suami isteri dan prostitusi yang makin marak.

"Tak kalah mirisnyamelibatkan usia anak, yang sering diistilahkan dengan aktifitas seksual berisiko, baik yang dilakukan pasangan heteroseksual maupun homoseksual. Kondisi tersebut memiliki risiko terjangkit HIV mencapai tiga sampai lima kali lipat lebih besar,” sambungnya.

Senada dengan Dermawan, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan bahwa “Penyebaran HIV dan AIDS disebabkan karena perilaku menyimpang seperti seks bebas dan sampai saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit HIV dan AIDS, sementara penyakit tersebut terus menyerang kekebalan tubuh.

Mirisnya, bayi yang baru lahir juga bisa mengidap penyakit HIV dan AIDS karena diturunkan dari orang tuanya. "Kita tidak boleh menjauhi ODHA dan ADHA. Sebagai warga negara yang baik, kita harus memastikan ODHA dan ADHA tercatat di Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan dan jangan mendiskriminasi mereka,” ujar Hendrar.

Data dari kemenkes Pada 2017 untuk jawa tengah saja ada 19.272 orang terinfeksi HIV. sedangkan di seluruh Indonesia tercatat sudah lebih 280.623 jiwa terinfeksi HIV dengan jumlah anak terinfeksi sebanyak 17.288 anak, dengan perincian anak 0 - 4 tahun berjumlah 8.564 anak dan usia 15 - 19 tahun sebanyak 8.724 anak.

Permasalahan utama yang di hadapi dalam penanganan HIV dan AIDS saat ini adalah sulitnya melakukan upaya pencegahan dini karena tidak semua pengidap HIV dan AIDS mau atau berani memeriksakan dirinya ke lembaga layanan.

Untuk mengatasi dan mencegah HIV di kota Semarang, Ketua Tim HIV RSUP Dr Kariadi Semarang, DR. Dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD, K-PTI, FINASIM Mengatakan bahwa masyarakat dapat melakukan tes HIV di Puskesmas, Rumah Sakit, dan laboratorium klinik terdekat.

Selain itu, bukan hal baru jika sebagian besar ODHA dan ADHA mengalami diskriminasi sosial akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut. Salah satu yang paling sering disalah pahami adalah metode penularan HIV dan AIDS.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial, Sonny Manalu pada Diskusi Publik “Kilau Generasi Bebas HIV dan AIDS” mengatakan penularan HIV dan AIDS dilakukan melalui tiga cara, diantaranya melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman (jarum tumpul), pertukaran alat jarum suntik, dan air susu ibu. Sonny juga mendorong agar seluruh lapisan masyarakat dapat memberikan informasi tentang HIV dan AIDS, memotivasi dan mampu menjadi sahabat ODHA dan ADHA.

Negara harus hadir dalam upaya upaya pencegahan dan penanganannya anak korban HIV dan AIDS, juga masyarakat perlu dilibatkan pada setiap tahapan terutama pada aspek pencegahannya. Saya berharap kegiatan ini dapat membukakan mata hati kita, bahwa Anak Korban HIV dan AIDS itu memang benar adanya dan perlu dicarikan solusi yang berdasar pada ”Kepentingan Terbaik Bagi Anak” dan menghargai hak-hak lainnya yang melekat pada anak.

"Saya juga menghimbau agar kita semua, termasuk anak – anak mampu menjadi sahabat bagi ODHA dan ADHA, jauhi virusnya, bukan orangnya, jauhi penyakitnya, bukan ODHA atau ADHA,” tutup Dermawan.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini