Kamis, 13 Desember 2018

Di Belanda, Gita Orlin Ingin Angkat Batik Trenggalek

Untuk memberikan warna pada batik Trenggalek, Gita Orlin memilih warna dari buah mengkudu.

Suara.Com
Ferry Noviandi
Seorang model memperagakan batik Trenggalek karya desainer Gita Orlin. (Nugie Photography)
Seorang model memperagakan batik Trenggalek karya desainer Gita Orlin. (Nugie Photography)

Suara.com - Sebagai orang Jawa Timur, desainer Gita Orlin rupanya punya misi mengangkat daerahnya lewat busana. Secara khusus, Gita ingin mempopulerkan batik Trenggalek, yang masih tak banyak orang tahu.

Kesempatan itu akan dimaksimalkan Gita Orlin dalam ajang fashion show yang akan digelar di Den Haag, Belanda, 7 Desember mendatang.

Desiner Gita Orlin (dokumentasi pribadi)
Desiner Gita Orlin (dokumentasi pribadi)

"Saya dari Jawa Timur, dari APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) Surabaya. Saya ingin mengangkat batik Jawa Timur biar dikenal banyak orang. Biar orang di Den Haag tahunya batik nggak cuma Solo dan Yogya," ujar Gita Orlin, saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Gita Orlin, ciri khas batik Trenggalek adalah warnanya yang cenderung gelap. Ciri khas tersebut akan dipadukan Gita dengan gayanya yang cenderung girly, feminin dan tetap glamor.

"Untuk pewarnaan bahannya, saya memakai buah mengkudu. Hasilnya lebih cantik dan lebih vintage. Kalau untuk motif, saya ambil sekar jagad dan parang. Ciri khasnya batik ini beras tumpah," ungkap Gita Orlin.

"Dengan warna-warna gelap cenderung hitam, dengan main embroidery saya bordir dengan swarovski, beads, dan bordiran handmade semua," sambung Gita.

Untuk fashion show di Belandan nanti, Gita Orlin akan memamerkan sekitar enam rancangannya.

"Tapi dengan cutting yang ada, yang loose, outer, dan blazer. Karena winter, jadi desainnya tebal-tebal dan tumpul," ungkap Gita Orlin.

Seorang model mengenakan batik Trenggalek karya rancangan desainer Gita Orlin. (Nugie Photography)
Seorang model mengenakan batik Trenggalek karya rancangan desainer Gita Orlin. (Nugie Photography)

Untuk satu pakaian, Gita mengaku biasanya dihargai sekitar Rp 6 juta. Harga tersebut ia anggap wajar karena karanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

"Detail-detailnya, desainnya, cuttingnya, karena rumit juga, nggak cuma batik jadi baju. Ada bordirnya, main payet, detail, swarovski dan dikombinasikan dengan berbagaia macam kain. Seperti kain sutra, organza, brokat, jadi nggak hanya batik saja," katanya.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini