Selasa, 18 Desember 2018

Korban Gempa Terlibat Pembersihkan Reruntuhan Bangunan

Apa program badan PBB pasca tsunami dan gempa bumi yang mengguncang Palu?

Suara.Com
Silfa Humairah Utami
Program pembersihan reruntuhan pasca gempa Palu. (Doc UNDP)
Program pembersihan reruntuhan pasca gempa Palu. (Doc UNDP)

Suara.com - Bertepatan dengan dua bulan semenjak tsunami dan gempa bumi yang mengguncang Palu dan sekitarnya, Badan PBB untuk Pembangunan UNDP bekerjasama dengan pemerintah pusat, daerah serta LSM Indonesia, meluncurkan program padat karya atau pemberian dana tunai sebagai bayaran dari pekerjaan membersihkan reruntuhan bangunan. 

Tahap pertama program padat karya melibatkan 300 orang di desa Lolu, desa Jono Oge dan desa Mpanau di Kabupaten Sigi. Program ini bermitra dengan LSM Relawan Untuk Orang dan Alam, Perkumpulan Inovasi Komunitas (Imunitas) dan Yayasan Mitra Karya Membangun (YMKM).

Program Padat Karya akan memperkerjakan 3500 orang - 40 persen diantaranya adalah perempuan – sampai akhir Januari.

“Membersihkan puing-puing di daerah yang terkena bencana merupakan prioritas untuk memulihkan akses ke infrastruktur utama. UNDP menanggapi prioritas ini melalui uang tunai untuk bekerja, yang menyediakan sumber penghasilan yang sangat dibutuhkan bagi ratusan orang yang kehilangan mata pencaharian karena bencana,” ujar Direktur UNDP Indonesia, Christophe Bahuet.

“Kegiatan ini merupakan satu langkah ke depan menuju pemulihan,” tambahnya.

Program pembersihan reruntuhan pasca gempa palu. (Doc UNDP)
Program pembersihan reruntuhan pasca gempa palu . (Doc UNDP)

Tahap pertama Padat Karya akan berlangsung selama 25 hari. Tahap kedua akan dilakukan di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Sedangkan lokasi desa tahap kedua, tergantung hasil penjajakan teknis terhadap tingkat kerusakan hasil koordinasi dengan pemerintah setempat. Dalam skema padat karya setiap pekerja akan mendapat bayaran maksimal selama 25 hari.

Program ini merupakan bagian dari program bantuan cepat bagi bencana dari UNDP sejumlah USD 1.4 juta untuk membantu upaya pemulihan. Pembiayaan prakarsa ini datang dari UN Central Emergency Response Fund, dan UNDP.

“Padat karya ini membantu mengurangi beban kami, karena setelah bencana ini, kami hilang (mata) pencaharian. Jadi Padat karya ini membantu kami memiliki pendapatan awal yang bisa kami pakai sementara,” ujar Ibu Sul Lamakampali (50 th), salah satu peserta kegiatan padat karya dari desa Jono Oge.

Tim dari UNDP Indonesia langsung tiba di lokasi sejak minggu pertama bencana untuk membantu warga yang terdampak, serta mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengkaji kebutuhan bagi pemulihan tahap awal. BNPB memimpin program bantuan dan pemulihan tahap awal.

Program padat karya dan program pemulihan bertumpu pada pengalaman UNDP dalam rekonstruksi dan pembangunan kembali Nepal yang ditimpa bencana alam serta Filipina yang diterjang badai Pablo di tahun 2012 dan kini juga dilakukan pasca gempa Palu .

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini