Kamis, 17 Januari 2019

Bukan Terdegradasi, Ternyata Wahyu Nayaka Diskorsing PBSI

Wahyu diskorsing PBSI lantaran melanggar aturan bermain di salah satu liga bulutangkis profesional di Malaysia.

Suara.Com
Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
Bukan Terdegradasi, Ternyata Wahyu Nayaka Diskorsing PBSI
Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira (kanan) saat berpasangan dengan partnernya di Pelatnas PBSI, Ade Yusuf Santoso. [Humas PBSI]

Suara.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI , Susy Susanti meluruskan terkait hilangnya nama Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira dari skuat Pelatnas PBSI 2019. Susy menyebut Wahyu tak terdegradasi, melainkan mendapat skorsing .

Dalam pengumuman skuat Pelatnas 2019 yang diumumkan PBSI pada, Jumat (4/1/2019) lalu, nama pebulutangkis spesialis ganda putra itu secara mengejutkan tak masuk dalam daftar.

Pasangan dari Ade Yusuf Santoso itu terdepak bersama ganda putra lainnya, seperti Angga Pratama dan Rian Agung Saputro.

Susy menyebut, Surat Keputusan (SK) PBSI untuk Wahyu harus dicabut karena pebulutangkis 26 tahun itu kedapatan melanggar salah satu aturan, yakni bermain di salah satu liga bulutangkis profesional di Malaysia.

"Wahyu sekarang dalam masa skorsing. Kenapa Wahyu tidak masuk SK, dia menyalahi aturan dan dalam masa skorsing PP PBSI," ungkap Susy saat dihubungi Suara.com, Minggu (13/1/2019) malam.

Meski tak masuk daftar 98 nama atlet penghuni PBSI, Susy menyebut Wahyu masih bisa berlatih di Pelatnas PBSI bersama atlet-atlet lainnya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti usai konferensi pers jelang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/7). [Suara.com/Arief Apriadi]
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti usai konferensi pers jelang Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/7). [Suara.com/Arief Apriadi]

Namun, dalam masa skorsing selama enam bulan, seluruh fasilitas dan biaya pemberangkatan ke turnamen harus ditanggung Wahyu sendiri.

"Jadi Wahyu masih dengan Ade dalam beberapa turnamen. Posisi dia saat ini sebagai sparing dan harus membiayai pemberangkatan sendiri. Tapi tetap latihan di PBSI," ujar Susy.

Menurut Susy, Wahyu masih memungkinkan untuk kembali ke Pelatnas. Saat ini, penampilan atlet asal Lombok itu terus dipantau tim kepelatihan.

Jika bisa merengkuh gelar juara di suatu turnamen, bukan tak mungkin skorsing Wahyu dipersingkat.

"Buat latihan silakan. Tapi fasilitas lain tidak ditanggung PBSI, selama enam bulan. Kecuali kalau dia juara mungkin akan ada potongan," beber peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona.

Aturan PBSI terkait pelarangan para pemain pelatnas untuk turun di sebuah liga profesional sejatinya sudah bukan hal asing.

Pasangan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, kalah dari Chen Hung-Ling/Wang Chi-Lin (Cina Taipei), dengan skor 21-13, 18-21 dan 14-21 di laga terakhir Grup B BWF World Tour Finals 2018, Jumat (14/12/2018). [Humas PBSI]
Pasangan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, kalah dari Chen Hung-Ling/Wang Chi-Lin (Cina Taipei), dengan skor 21-13, 18-21 dan 14-21 di laga terakhir Grup B BWF World Tour Finals 2018, Jumat (14/12/2018). [Humas PBSI]

Menurut Susy, ganda putra gaek, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pun keluar Pelatnas PBSI karena alasan tersebut.

"Sama dengan Hendra/Ahsan, mereka tak didegradasi, tapi mengundurkan diri karena mereka sadar ingin main di liga," tukasnya.

Wahyu sendiri akan tetap bermain di Malaysia Masters 2019 bersama partnernya Ade Yusuf Santoso. namun, Wahyu harus menanggung sendiri biaya mengikuti turnamen BWF World Tour Super 500 itu.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini