Fakta Menarik Seputar Kejuaraan All England

All England 2019 akan dihelat di Arena Birmingham, Inggris, 6-10 Maret mendatang.

Suara.Com
Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
Fakta Menarik Seputar Kejuaraan All England
Pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meluapkan kegembiraannya usai memastikan meraih gelar All England 2018. [Humas PBSI]

Suara.com - Salah satu turnamen bulutangkis paling bergengsi di dunia, All England, akan segera bergulir pekan ini. Turnamen yang dihelat di Arena Birmingham, Inggris, ini akan berlangsung pada 6-10 Maret 2019.

All England Open 2019 merupakan turnamen BWF World Tour keenam yang dipertandingkan tahun ini.

Kompetisi bulutangkis yang menihilkan sistem kualifikasi itu akan memperebutkan hadiah total 1 juta dolar AS (sekitar Rp 14,1 miliar).

Dilansir dari berbagai sumber, berikut lima fakta menarik seputar kejuaraan All England yang dirangkum Suara.com:

1. Turnamen Tertua di Dunia

All England disebut sebagai turnamen bulutangkis tertua di dunia. Kompetisi bulutangkis internasional ini telah ada sejak 1898 di Guildford, Inggris, dan mulai resmi bergulir setahun setelahnya.

Saat pertama kali bergulir, All England hanya mempertandingkan tiga sektor, yakni ganda putra, ganda putri dan ganda campuran.

Setelahnya, sektor tunggal putra dan tunggal putri berangsur-angsur turut dipertandingkan.

2. Vakum Akibat Perang Dunia

Gelaran All England tercatat dua kali vakum akibat Perang Dunia I dan II.

Pada periode pertama, All England terhenti selama kurun waktu empat tahun dari 1915-1919. Sementara saat perang dunia ke-II gelaran itu terhenti 1940-1946.

Selain dua periode kelam itu, All England terus dipertandingkan hingga saat ini.

Tercatat, turnamen yang pada awalnya bernama Badminton Association Tournament itu sudah bergulir selama 120 tahun.

3. Tujuh Kali Pindah Stadion

Sejak bergulir pada 1899, All England sudah tujuh kali pindah stadion. Pada tahun pertama hingga 1901, All England dipertandingkan di HQ London Scottish Regiment Drill Hall, Buckingham Gate.

Setahun kemudian, gelaran itu pindah ke venue Crystal Palace, Sydenham, Kent. Namun, itu pun tak bertahan lama, karena setahun kemudian, atau tepatnya pada 1903-1909, turnamen All England dipindah ke London Rifle Brigades City Headquarters, Bunhill Hill, London.

Setelahnya All England berturut-turut dipertandingkan di The Royal Horticultural Hall, Vincent Square, London (1910-1939), Haringay Arena, London (1947-1949), Empress Hall, Earls Court, London (1950-1956), Wembley Arena, London (1957-1993), dan Barclaycard Arena, Birmingham (1994-sekarang).

4. Peraih Gelar Terbanyak

Hingga 2019, terdapat 14 pemain yang berhasil meraih gelar All England sebanyak dua digit. Enam diantaranya merupakan pebulutangkis berkebangsaan Inggris.

Untuk urusan gelar terbanyak All England, sampai saat ini masih dipegang oleh Sir George Alan Thomas.

Pria yang namanya diabadikan untuk turnamen beregu putra, Thomas Cup, itu berhasil meraih 21 gelar. Rinciannya empat kali di sektor tunggal putra, sembilan di sektor ganda putra, dan delapan disektor ganda campuran.

5. Pemain Indonesia dengan Gelar All England Terbanyak

Indonesia memiliki reputasi yang cukup mentereng di kompetisi All England. Setelah Tan Joe Hok untuk pertama kalinya mengibarkan bendera Indonesia di tanah Inggris, prestasi wakil-wakil Indonesia semakin bersinar di sana.

Tercatat, Rudy Hartono yang bermain disektor tunggal putra menjadi pebulutangkis Indonesia dengan gelar All England terbanyak.

Rudy berhasil menjuarai turnamen prestisius itu sebanyak delapan kali, tujuh diantaranya dilakukan secara beruntun dari 1968-1974.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini