Taufik Hidayat Percaya Jonatan dan Anthony Masih Punya Potensi

Taufik Hidayat memang kecewa dengan penampilan dua tunggal putra ini di All England 2019

Suara.Com
Reky Kalumata | Arief Apriadi
Taufik Hidayat Percaya Jonatan dan Anthony Masih Punya Potensi
Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat menonton langsung perjuangan atlet para-bulutangkis Asian Para Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (13/10/2018). [Arief Apriadi/Suara.com]

Suara.com - Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat memang kecewa dengan penampilan dua tunggal putra Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting di All England 2019. Namun, peraih medali emas Olimpiade 2004 Athena itu percaya jika dua pemain itu masih punya potensi.

Melihat dari tren negatif sektor tunggal putra selepas Asian Games 2018, Taufik merasa tak hanya para pemain yang harus mendapat kritik. Staf kepelatihan PBSI juga dinilai harus bertanggung jawab terhadap melempemnya prestasi tunggal putra beberapa tahun belakangan.

"Jojo --sapaan akrab Jonatan-- dan Ginting masih punya potensi. Saya harap ada perombakan lah dari pelatih teknik sama fisik. Ada pergantian lah, kata Taufik Hidayat saat dihubungi wartawan beberapa waktu lalu.

Menurut Taufik, jajaran pelatih sektor tunggal putra saat ini harus diberikan target dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, jika satu tahun menjelang Olimpiade 2020 bergulir masih gagal menelurkan prestasi, PBSI disebutnya harus tegas melakukan perubahan.

Pebulutangkis tunggal putra Musica Trinity, Jonatan Christie, menjadi penentu kemenangan timnya atas PB Jaya Raya di semifinal Djarum Superliga Badminton 2019 yang berakhir dengan skor 3-0, Jumat (22/2/2019). [Humas PBSI]
Pebulutangkis tunggal putra Musica Trinity, Jonatan Christie, menjadi penentu kemenangan timnya atas PB Jaya Raya di semifinal Djarum Superliga Badminton 2019 yang berakhir dengan skor 3-0, Jumat (22/2/2019). [Humas PBSI]

"Coba tes saja satu tahun sampai Olimpade. Kalau dengan orang yang sama, hasilnya juga akan sama hingga tahun 2020 ini. Pelatih fisiknya toh juga begitu-begitu saja. Dari Asian Games 2018 sampai sekarang juga hasilnya apa?," ujar Taufik.

Taufik yang merupakan peraih enam gelar Indonesia Open itu menjelaskan jika pergantian staaf kepelatihan lebih masuk akal dibanding mengganti komposisi pemain. Pasalnya, hingga saat ini belum ada tunggal putra Indonesia yang mendekati kemampuan Jonatan dan Anthony.

"Kalau pemain tidak bisa diganti, hanya ada nya itu saja, tidak ada lagi. Memang mau pakai pemain yang masih umum 17-18 tahun? tidak kan. Jadi (PBSI) harus punya terobosan baru," tukasnya.

Sebagaimana diketahui, di All England 2019, Jojo (sapaan akrab Jonatan) terhenti di babak kedua oleh wakil India, Kidambi Srikanth. Jonatan Christie yang unggul secara head-to-head nyatanya harus takluk dalam pertarungan rubber game, 17-21, 21-11, 12-21.

Pebulutangkis tunggal putra Musica Trinity, Anthony Sinisuka Ginting, usai mengalahkan tunggal putra asing Berkat Abadi, Brice Levedez, dalam penyisihan Grup A Djarum Superliga Badminton 2019 di GOR Sabuga, Bandung, Senin (18/2). [Humas PBSI]
Pebulutangkis tunggal putra Musica Trinity, Anthony Sinisuka Ginting, usai mengalahkan tunggal putra asing Berkat Abadi, Brice Levedez, dalam penyisihan Grup A Djarum Superliga Badminton 2019 di GOR Sabuga, Bandung, Senin (18/2). [Humas PBSI]

Sementara penampilan Anthony Sinisuka Ginting jauh lebih menurun. Tunggal putra peringkat tujuh dunia ini kembali terhenti di babak pertama, seperti halnya gelaran All England tahun lalu.

Anthony Sinisuka Ginting harus pulang dari Arena Birmingham, Inggris, lebih cepat setelah ditekuk wakil Hong Kong, Ng Ka Long Angus, dalam pertarungan tiga game, 18-21, 21-13, 11-21.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini