Sabtu, 16 Desember 2017

Mengapa Ada Tulisan "Allah" pada Pakaian Bangsa Viking?

Tradisi penguburan Viking dipengaruhi oleh ajaran Islam tentang kehidupan kekal di surga setelah kematian.

Suara.Com
Liberty Jemadu
Ilustrasi baju zirah bangsa Viking.[Shutterstock]
Ilustrasi baju zirah bangsa Viking.[Shutterstock]

Suara.com - Sejumlah peneliti di Swedia telah menemukan aksara-aksara Arab pada pakaian-pakaian di dalam kuburan bangsa Viking. Penemuan ini memantik pertanyaan baru tentang pengaruh Islam di kawasan Skandinavia.

Adapun pakaian-pakaian itu disimpan selama lebih dari 100 tahun oleh para arkelolog, karena dianggap sebagai kostum penguburan biasa dari era Viking.

Tetapi sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kain-kain itu, yang berasal dari kuburan di abad ke-9 dan ke-10, bisa menjadi bukti hubungan antara bangsa Viking dan dunia Islam.

Penemuan itu dilakukan oleh pakar arkeolog tekstil, Annika Larsson dari Universitas Uppsala, Swedia. Ia meneliti kostum-kostum pemakaman dari situs-situs kuburan purba di Birka dan Gamla Uppsala di Swedia.

Kostum-kostum itu sendiri, yang ditemukan pertama kali dalam penggalian pada akhir abad 19 dan awal abad 20, menarik perhatian Larsson setelah ia menyadari bahwa kain-kain itu berasal dari Asia Tengah, Persia, dan Cina.

Larsson mengatakan bahwa desain geometris, yang berukuran tak lebih dari 1,5cm, terlihat sangat asing dan tak pernah ditemukan di kawasan Skandinavia sebelumnya.

"Saya sama sekali tak memahami desain itu dan kemudian saya ingat bahwa saya pernah melihat desain yang sama di Spanyol, pada tekstil-tekstil bangsa Moor," jelas dia.

Larrson kemudian menyadari bahwa pola-pola yang dilihatnya itu bukan berasal dari Bangsa Viking, melainkan adalah teks Arab Gundul. Ia kemudian menemukan setidaknya dua kata yang paling sering muncul.

Yang pertama adalah, yang dikenalinya berkat bantuan seorang rekan asal Iran, adalah nama "Ali".

Tetapi satu pola lagi yang sukar ia pecahkan. Ia berusaha membaca pola itu dengan memperbesarnya, membacanya dari berbagai sisi, termasuk dari belakang.

"Saya kemudian melihat tulisan 'Allah', yang ditulis secara terbalik," terang dia.

Menurut Larsson ia sejauh ini menemukan kedua nama itu dalam 10 dari hampir 100 pakaian penguburan. Kedua nama itu selalu muncul bersamaan.

Pemakaman Muslim di Skandinavia?

Penemuan ini memantik pertanyaan penting soal siapakah sebenarnya yang terbaring dalam pemakaman Viking itu?

"Kemungkinan bahwa sebagian makam itu milik Muslim tak bisa diabaikan," kata Larrson.

"Kami tahu bahwa dari analisis DNA yang ditemukan di pemakaman Viking lain, diketahui bahwa beberapa orang yang di makamkan di sana berasal dari Persia, tempat Islam yang sangat dominan," jelas dia.

Akan tetapi, jelas Larsson, temuannya itu lebih menunjukkan bahwa tradisi penguburan Viking dipengaruhi oleh ajaran Islam tentang kehidupan kekal di surga setelah kematian.

Kini Larsson dan timnya bekerja sama dengan pakar imunologi, genetika, dan pathologi pada Universitas Uppsala untuk mencari tahu daerah asal jenazah-jenazah di dalam kuburan tempat kain-kain itu diambil.

Kontak antara Viking dan Islam memang bukan berita baru. Koin-koin dari dunia Islam sebelumnya banyak ditemukan di belahan Eropa bagian utara.

Pada 2015 lalu, para peneliti juga menemukan bahwa sebuah cincin perak bermata ungu yang ditemukan dalam makam seorang perempuan di Birka, Swedia juga berukir tulisan "Allah" dalam bahasa Arab.

Tulisan "Allah" itu juga ditulis dalam aksara Arab Gundul, sebuah sistem aksara yang berkembang di Kufah, Irak pada abad ke-7. Aksara itu adalah salah satu aksara pertama yang digunakan untuk menulis Alquran.

Tentang Ali

Selain itu, menurut Larsson, penelitiannya itu juga menarik karena untuk pertama kalinya sebuah artefak sejarah bertuliskan nama "Ali" ditemukan di Skandinavia.

"Nama Ali ditemukan berulang-ulang kali di samping nama Allah," kata dia, "Saya tahu bahwa Ali sangat dihormati oleh kelompok minoritas Muslim terbesar di dunia, Syiah. Tetapi saya bingung untuk mencari hubungan antara kedua nama itu."

Ali adalah sepupu, sekaligus menantu Nabi Muhammad. Ia juga menjadi kalifah keempat, setelah Nabi Muhammad wafat.

Baik Muslim Suni maupun Syiah sangat menghormati Ali sebagai sahabat Nabi Muhammad, tetapi bagi umat Syiah ia lebih dihormati karena dianggap sebagai pewaris Nabi Muhammad.

"Penulisan nama Ali jelas menunjukkan adanya pengaruh Syiah," kata Amir De Martino, pengajar studi Islam di Islamic College, London, Inggris.

"Tapi tanpa frasa 'wali Allah' - yang berarti sahabat Allah -, penyebutan ini tampaknya bukan berasal dari tradisi Syiah arus utama dan bisa saja tulisan ini hanya merupakan salinan yang salah," kata De Martino, yang juga pemimpin redaksi Islam Today, sebuah majalah Syiah Inggris.

"Karenanya... kemungkinan besar temuan ini hanyalah pola disalin secara keliru," jelas De Martino. (BBC)

Terpopuler

Terkini