Senin, 10 Desember 2018

Angin Puting Beliung Sapu Bogor, Ini Penjelasan BMKG

Menurut BMKG, angin puting beliung berkecepatan 50 km/jam itu melanda Bogor Selatan.

Suara.Com
Liberty Jemadu
Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Bogor, Jawa Barat. (Suara.com/Rambiga)
Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Bogor, Jawa Barat. (Suara.com/Rambiga)

Suara.com - Angin puting beliung disertai hujan lebat menyapu Bogor, Jawa Barat pada Kamis (6/12/2018) siang hingga petang dan telah setidaknya menyebabkan satu orang tewas, serta beberapa bangunan rusak.

Meski belum diketahui berapa kerugian akibat bencana itu, tetapi peristiwa tersebut dengan cepat mencuri perhatian publik Tanah Air. Foto serta video hujan serta angin puting beliung di Bogor menyebar liar via media-media sosial.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor sendiri menjelaskan bahwa angin puting beliung yang terjadi Kamis siang hingga petang menyapu Batu Tulis, Lawang Gintung, dan sekitarnya di Kecamatan Bogor Selatan.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Bogor, Hadi Saputra menyatakan kecepatan angin yang dalam fenomena alam itu sekitar 30 knot atau 50 KM per jam dalam satu hembusan.

"Sapuan angin biasanya mencapai 100 meter hingga 1 KM mengikuti arah angin," imbuh Hadi.

Menurut Hadi, angin kencang ini terjadi karena bentukan awan Cumulonimbus (CB) di wilayah Bogor selatan. Hadi memprediksi kondisi cuaca seperti ini berpotensi terjadi selama puncak musim hujan yang berlangsung di wilayah Bogor hingga akhir Februari 2019.

Sementara menurut juru bicara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, fenomena puting beliung merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.

"Kejadian hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dan musim hujan saat kondisi cuaca pagi cerah dan terik," jelas dia.

BMKG sendiri mengimbau masyarakat untuk mewaspadai hujan ekstrim yang masih berpotensi terjadi, dengan melihat tanda-tanda seperti diawali dengan petir.

"Masyarakat diimbau kalau sudah terdengar petir jangan berada di lapangan, bawah pohon, atau papan reklame," kata Hadi.

Selain itu, warga juga diminta untuk selalu mengikuti informasi cuaca dari BMKG melalui aplikasi Info BMKG yang bisa diunduh di ponsel bersistem Android maupun iOS.

    Berita Terkait

    Terpopuler

    Terkini