Minggu, 20 Januari 2019

Teknologi Kecerdasan Buatan Ini Mampu Deteksi Alzheimer Lebih Cepat

Hasilnya enam tahun lebih cepat dibandingkan diagnosa yang dikenal sekarang.

Suara.Com
RR Ukirsari Manggalani | Lintang Siltya Utami
Teknologi Kecerdasan Buatan Ini Mampu Deteksi Alzheimer Lebih Cepat
Ilustrasi kecerdasan buatan [Shutterstock].

Suara.com - Para ilmuwan dari University of California San Fransisco berhasil menemukan teknologi kecerdasan buatan ( AI ) yang mampu mendeteksi penyakit Alzheimer lebih cepat . Yaitu enam tahun lebih cepat sebelum diagnosis umumnya ditetapkan.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Radiology milik Jae Ho Sohn, seorang peneliti dari University of California San Fransisco, Amerika Serikat. Penelitian dilakukan dengan mengombinasikan neuroimaging atau pemindaian otak dengan teknologi machine learning. Hasilnya, mampu memprediksi apakah si pasien menderita Alzheimer atau tidak.

Cara mendeteksinya dengan melakukan pemindaian Positron Emission Tomography (PET) yang mampu mengukur tingkat molekul spesifik seperti glukosa dalam otak.

Menurut studi tadi, glukosa disebut sebagai 'bensin' utama dalam jaringan otak. Semakin aktif jaringan ini, maka semakin banyak glukosa yang digunakan. Jika jaringan otak diserang penyakit dan mati, maka glukosa di dalam otak sama sekali tidak digunakan.

Hal ini sama dengan saat otak diserang oleh Alzheimer, penyakit ini mampu mengurangi tingkat glukosa pada otak. Namun karena berkembang dengan sangat lambat, maka perubahan tingkat glukosa juga akan sangat sulit dideteksi dengan mata telanjang. Untuk menangani hal ini, Jae Ho Sohn menggunakan algoritma machine learning pada pemindaian PET. Hal ini bertujuan untuk membuat diagnosis itu semakin bisa dipercaya.

Dalam proses untuk melatih algoritma machine learning tadi, Jo Ho Sohn menggunakan foto yang berasal dari Alzheimer's Disease Neuroimaging Initiative (ADNI) yang memiliki data publik besar terkait pemindaian PET pada pasien. Algoritma mesin ini yang kemudian akan menganalisis foto ini, untuk memprediksi diagnosis penyakit Alzheimer.

Hasilnya, algoritma yang didapat mampu mengidentifikasi dengan benar pada 92 persen pasien terpapar Alzheimer dalam pengujian pertama dan 98 persen di pengujian kedua. Prediksi ini dibuat dalam rata-rata 75,8 bulan, yang berarti teknologi dan cara ini mampu memprediksi enam tahun lebih cepat sebelum pasien mendapatkan diagnosis akhir mengenai Alzheimer.

Setelah memprediksi, tahap selanjutnya adalah dengan menguji dan mengkalibrasi algoritma itu ke dalam kumpulan data yang lebih besar dan beragam dari berbagai rumah sakit hingga negara.

Jika dalam penelitian lebih lanjut algoritma dengan perpaduan teknologi AI ini mampu memprediksi Alzheimer dengan lebih cepat, maka teknologi mutakhir itu bisa digunakan oleh para neurolog untuk memberikan perawatan lebih dini.

Muncul perdana di Hitekno.com

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini