A. Satori Ismail: Dakwah Bukan untuk Mengkafirkan Umat Lain

"Agamamu agamamu, agamaku agamaku"

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
A. Satori Ismail: Dakwah Bukan untuk Mengkafirkan Umat Lain
Ketua Ikatan Da’i Indonesia, Achmad Satori Ismail. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Pendakwah, da’i, atau juga ulama mempunyai peran strategis dalam menyebarkan ajaran Islam. Mereka ‘bersyiar’ melalui masjid, mimbar terbuka maupun media massa. Namun sejauhmana syiar mereka dibenar dalam ajaran Islam?

Ketua Ikatan Da’i Indonesia, Achmad Satori Ismail menegaskan tidak sembarang orang bisa mensyiarkan agama Islam. Dalam berdakwah, seorang da’i harus menyebarkan Islam sebagai agama yang damai dan sejuk.

Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu mengatakan ada 6 syarat yang harus dipenuhi oleh da’i dalam berdakwah. Syarat ini sebagai upaya membentengi diri dari pengaruh radikalisme.

Sebab Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mempunyai data, 60 persen lebih masjid di Jakarta menyebarkan paham radikal. Ini dilihat dalam khotbah yang cenderung menyebar kebencian. Namun Satori tidak mempercayai sepenuhnya dengan data itu. Termasuk penilaian pesantren yang bisa memicu pembentukan bibit terorisme.

“Tunjukan ke saya masjid mana yang mensyiarkan radikalisme, dan pesantren mana yang mengajarkan radikalisme?” tanya Satori.

Menurut dia, tugas utama pendakwah untuk mengajarkan Islam yang damai dan menyebarkan sifat toleransi. Bagaimana tips pendakwah untuk menyampaikan pesan itu?

Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Satori Ismail di ruang kerjanya di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputan, Tangerang Selatan pekan lalu:

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mempunyai data, 60 persen lebih masjid di Jakarta menyebarkan paham radikal. Ini dilihat dalam khotbah yang cenderung menyebar kebencian. Bagaimana pandangan Anda?

Masjid mana, coba tunjukan. Kalau bisa menyebutkan, mana saja. Ini penting karena tidak bisa menuduh penceramahnya radikal.

Sebagai muslim, kita ingin mereka berceramah sesuai dengan ajaran Islam. Islam itu kan agama penuh kasih sayang. Seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad, apa yang dilakukan rasul kan sangat indah.

Selama orang Yahudi dan kaum lain macam-macam, tidak pernah beliau bertindak keras. Bahkan di zaman Umar Bin Khatab, ada orang Yahudi yang miskin diberi sedekah. Tapi memang dalam Islam, jika ada masjid yang menyebarkan radikalisme harus dibenahi.

Menurut Anda, apakah masjid yang ada di Jakarta sudah proporsional dalam menyiarkan Islam?

Apakah sudah maksimal masjid-masjid ini dalam mensyiarkan Islam? Apakah sudah maksimal peran masjid dalam berdakwah dan menyebarkan kasih sayang dalam Islam? Karena dakwah melalui ceramah, yang mendengar terbatas.

Sedikit yang datang ke masjid, hanya orang-orang yang baik-baik saja. Sementara yang tidak baik, tidak ke masjid. Maka masyoritas masjid dalam berdakwah kurang efektif karena bersandar pada ceramah atau tabligh.

Seharusnya bagaimana masjid-masjid itu menyebarkan Islam yang penuh kasih sayang yang kongkrit. Misal ada orang miskin, kita bantu bersama atau juga menolong para pengangguran. Jadi bentuknya diwujudkan dalam saling tolong menolong. Dakwah yang seperti itu belum maksimal.

Masjid juga sering ‘diduduki’ kelompok Islam garis keras, bagaimana untuk mencegah ini?

Saya sendiri kalau ada orang-orang Islam yang garis keras, harus dilihat kerasnya itu apa? Apakah keras karena berjenggot dan celana ngatung, atau juga keras yang suka mem-bid’ah. Sepengatahuan saya, masjid itu tidak yang mengajak untuk membunuh orang lain dan mencelakai orang lain. Kalau memang ada masjid seperti itu, kita cari.

Sebab Ikatan Da’i Indonesia menginginkan masjid sebagai tempat bersujud. Tempat sujud itu sebagai tempat mengabdi ke Allah, bukan untuk menyerang orang dan bukan melakukan makar. Sujud untuk mendapatkan ketenangan dan tempat bersyukur.

Masjid memang pernah diduduki oleh kelompok radikal, semial LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Kelompok itu menganggap orang lain najis, sehingga mereka mempunyai masjid khusus. Masjid tertutup untuk kelompok orang di luar mereka. Mereka adalah kelompok garis keras karena berhadapan dengan sesama muslim saja sekeras itu.

Kemudian ada masjid yang diduduki kelompok salafi. Kelompok ini punya pandangan bahwa mereka harus berpegang kepada akidah versi mereka, kemudian jika ingin beribadah harus seperti mereka. Mereka sering men-cap orang lain dan sesama muslim, bid’ah.

Misal dalam memandang cara berpakaian, menurut mereka memakai celana itu harus di atas mata kaki. Jika tidak, akan masuk neraka. Padahal hadis-hadisnya masih debat tebal. Sebagai umat Islam, kita harus mempunyai pengetahuan luas dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Kita melakukan persuasi dengan orang seperti mereka.

Seperti apa melakukan pendekatan ke kelompok-kelompok garis keras? Bagaimana caranya?

Permasalahannya, mereka sudah punya keyakinan seperti itu. Dalam banyak hal kita diskusi. Tapi  mereka tetap saja seperti itu, karena itu dianggap paling benar. Saya menyampaikan ke umat dalam ceramah, jika kalau ada pemikiran radikal tidak perlu ditentang. Sebab pemikiran itu untuk mereka sendiri. Kecuali kalau mereka menyalahkan orang lain.

Kaum radikal mempunyai ekstrim dalam pemahaman ibadah dan memahami hadis.

Apakah Anda mempunyai data jumlah kelompok garis keras itu?

Kami belum pernah mensurvei. Tapi ada gejala masjid-masjid diduduki kelompok seperti itu. Sebenarnya mereka mempunyai keterbatasan pengetahuan Islam. Mereka menganggap orang Islam yang tidak seperti mereka adalah salah.

Ikatan Da’i Indonesia mempunyai tujuan melahirkan para da’i yang mempunyai ceramah baik dan menyejukkan. Seperti apa kategori ceramah  yang menyejukan itu?

Pertama, tidak membahas masalah cabang-cabang yang menimbulkan perdebatan dan perbedaan pendapatan. Misal soal salat qunut saat Subuh, tidak perlu dipersoalkan. Biarkan saja yang mengerjakan atau juga yang tidak. Sebab sejak dulu salat qunut sudah ada. Itu terjadi antara Muhamadiyah dan Nahdalatul Ulama. Lalu masalah tahlilan, itu kan perbedaan pendapat biasa.

Kedua, ceramah itu harus membahas masalah-masalah yang bisa menyatukan umat. Ketiga, tidak menyinggung penganut ajaran atau agama lain. Dalam menjawab pernyataan yang bersinggungan dengan perbedaan keyakinan tidak memojokan agama tertentu.

Keempat, tidak membahas soal politik praktis. Sebab ini menimbulkan banyak masalah. Seperti ceramah jangan disinggung ke kepentingan kelompok tertentu. Kelima, menggunakan bahasa yang indah. Salah satunya mengkritik atau menyalahkan orang lain dengan bahasa yang indah, sehingga orang itu tidak tersinggung.  Istilahnya, “agamamu agamamu, agamaku agamaku”. Keenam, tidak menyinggung soal ketuhanan agama lain. Sebab mereka sudah mempunyai keyakinan itu.

Dalam berdakwah, da’i harus menyampaikan cara bagaimana umat muslim ini menjadi Islam yang baik. Mau menjalankan syariat Islam.

Banyak fenomena pihak yang banyak mengkafirkan seseorang yang berbeda keyakinan adalah para ulama tersohor. Bahkan mereka tampil di media televisi…

Biasanya orang yang tidak memiliki wawasan yang luas, banyak mengkafirkan orang lain. Itu wajar, karena keterbatasan pemahaman. Bahkan orang yang tidak luas pengetahuan agamanya, hanya belajar dari ucapan guru-gurunya, dan tak belajar dari catatan referensi. Dalam Islam, tidak boleh mendakwahkan agama lain. Ulama hanya boleh menyampaikan ajaran Islam, tanpa mendakwahkan. Karena tidak boleh ada paksan dalam agama Islam. 

Selanjutnya chevron_right

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini