Sabtu, 19 Januari 2019

Anies Baswedan: Kembalikan Nyawa Pendidikan Indonesia

Bapak presiden saya berterimakasih sudah diberikan kehormatan untuk membantu dalam 20 bulan terakhir ini.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
Anies Baswedan: Kembalikan Nyawa Pendidikan Indonesia
Mantan Mendikbud Anies Baswedan. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Tak terhitung jumlah orang yang bingung saat Anies Baswedan menjadi salah satu yang dicopot dari Kabinet Kerja Joko Widodo. Suara bingung itu bisa dipantau di sosial media, salah satunya Twitter.

Anies termasuk menteri yang tidak terdengar bermasalah. Selama 20 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, gebrakan Anies baru terdengar di detik terakhir saat ingin di-reshufle. Programnya, para orangtua harus mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah.

Anies menilai, mengantarkan anak di hari pertama sekolah hal yang sangat penting. Saat mengantar sekolah, orangtua berinteraksi dengan guru dan melihat keadaan lingkungan sekolah.

“Saya bersyukur kemarin berjalan dengan baik,  dan target kita untuk menyelamatkan anak Indonesia juga tercapai,” kata Anies.

Dalam wawancara dengan suara.com pertengahan pekan lalu, Anies pun buka-bukaan soal pencopotan dirinya sebagai menteri. Dia mengkonfir masi beberapa isu alasan pencopotan dirinya sebagai menteri.

Mengapa Anies dicopot? Berikut wawacara lengkap suara.com dengan Anies di kediamannya di Lebak Bulus:

Masyarakat di sosial media terkejut Anda masuk daftar reshuffle kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Apakah Anda juga terkejut?

Anda bisa cek sama orang-orang yang menemani saya saat itu, ada asisten dan ajudan. Selesai pembicaraan (dengan presiden), saya pulang. Jadi memang penggantian ini bukan sesuatu yang terduga. Saya juga tidak menduga, tetapi saya menjalani ini dengan biasa-biasa saja.

Apa yang saya kerjakan selama ini juga di luar pemerintahan, kecuali selama puluhan tahun saya menjadi menteri dan mendadak berhenti.

Sekarang ini saya bergerak di bidang pendidikan, bersama masyararakat dan di mana-mana, sampai ke pelosok. Begitu saya selesai dari pemerintahan, saya langsung berinteraksi dengan teman-teman semua.

Malah waktu ngobrol sama anak saya, komentarnya berarti saya punya waktu banyak di rumah. Karena dulu nggak punya waktu banyak di rumah.

Waktu Ada dengan keluarga lebih banyak yah…

Saya dekat sekali dengan anak. Saya biasa main sama mereka, main gulat, sepak bola. Di rumah ada area main futsal, biasanya pas weekend. Nah ini unik, anak saya yang kelas 2 SD datang, saya ada di rumah. Dia tidak menyangka.

Saya memang menganjurkan para orangtua mengantar anak-anak ke sekolah. Karena saya yang menganjurkan, saya yang menjalankan. Saya antarkan ke sekolah, temui gurunya, wali kelas dan lihat lingkungan. Bagi saya itu bukan suatu yang baru.

Waktu awal saya tinggal di sini, saya nggak punya sopir. Jadi saat itu saya stir sendiri, antar anak-anak dulu, baru saya ke kantor. Jadi itu hal yang rutin. Sekarang anak-anak saya sudah kuliah.

Sewaktu jadi menteri, justru rumah dinas di Widya Chandra jarang ditempati?

Alhamdulillah belum pernah diinapi, belum pernah menginap di sana. Kehidupan kami tidak pernah berubah, saya dan anak-anak semua di sini. Ngantor juga tidak pakai fasilitas ekstra, sehari-hari saya pakai Kijang. Kalau ada acara kenegaraan, baru saya pakai mobil RI. Ke Istana Kepresidenan, saya pun menggunakan mobil Kijang. Fasilitas secukupnya saja.

Semua orang bertanya alasan Anda di-reshufle…

Pertanyaan yang sama juga saya miliki. Tapi saya tidak tanya ke presiden, jadi saya juga tidak tahu jawabannya. Saat ditanya  mengapa, saya bilang tidak tahu. Saya hanya diundang presiden, dan disampaikan bahwa “ada perkembangan-perkembangan baru yang mengharuskan reshuffle, maka saya dan pak wapres mohon maaf sampai ini terjadi”.

Lalu selesai, saya katakana “bapak presiden saya berterimakasih sudah diberikan kehormatan untuk membantu dalam 20 bulan terakhir ini. Kemudian sepenuhnya adalah hak preogtif presiden.

Karena itu hak presiden, maka tidak memberikan alasan juga tidak apa-apa. Lalu saya laporkan ini yang sudah kami kerjakan, lalu anggaran tahun depan untuk menteri selanjutnya.

Ada rumor Anda dicopot karena kasus Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang berlum berjalan optimal dan tidak memenuhi target. Anda juga dianggap sebagai potensi menjadi pesaing Jokowi di Pilpres 2019. Bagaimana komentar Anda?

Pertama tiap kementerian punya target, kalau teman-teman lihat ada target yang sudah tercapai, belum tercapai, bahkan yang sudah terlampaui targetnya. Kalau sebabnya karna target, maka akan banyak sekali yang di-reshufle.

Soal KIP, target tahun lalu KIP menjangkau 17,9 juta siswa. Hasilnya kita berhasil menjangkau 19,1 juta penerima di tahun 2015. Itu di atas target. Tahun ini kartu itu sudah disebar pada 96,3 persen anak didik.

Jadi KIP itu berjalan dan pembayarannya itu jalan. Jadi jelaskan, macetnya di mana? Mana datanya yang nggak jalan. 

Selanjutnya chevron_right

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini