Selasa, 22 Januari 2019

Raymond Tjandrawinata: Melihat Potensi Obat Herbal di Indonesia

Raymond penemu 9 obat herbal, pemegang 20 paten, dan menerbitkan ratusan jurnal ilmiah. Tak banyak seperti Raymond di Indonesia.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
Raymond Tjandrawinata: Melihat Potensi Obat Herbal di Indonesia
Raymond R Tjandrawinata. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Tak terelakan, Indonesia merupakan negara kaya sumber daya alam hayati. Catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOPM), Indonesia mempunyai lebih dari 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan. Sebanyak 7.500 jenis di antaranya termasuk tanaman berkhasiat obat.

Hutan Indonesia menjadi habitat 30.000 dari 40.000 jenis tumbuhan obat di dunia. Sebanyak 90 persen dari tumbuhan obat dunia terdapat di wilayah Asia.

‘Silau’ dengan potensi itu, Raymond Rubianto Tjandrawinata, PhD, MS, MBA, FRSC pulang ke Indonesia setelah belasan tahun sekolah di Amerika Serikat belajar biologi molekuler sampai S3. Di Amerika, Raymond sudah bekerja sebagai peneliti di perusahaan farmasi bergengsi.

Sejak tahun 2000, Profesor kelahiran Bandung 54 tahun lalu ini fokus menciptakan obat baru dengan bahan dasar tanaman herbal, bahkan binatang pun dijadikan obat. Tak heran, Raymond mendapatkan penghargaan bergengsi Habibie Award 2016 untuk bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi. Dia dinilai berdedikasi dalam pengembangan obat-obatan Indonesia.

Suara.com menemui Raymond di kantornya di Kawasan Bintaro, Tangerang, Banten. Dia banyak bercerita perjalanan hidupnya sampai kegelisahannya tentang riset obat-obatan herbal.

Raymond menemui banyak tantangan bekerja di industri obat swasta. Mulai dari riset sampai ke penjualan obat. Menurut dia, pemerintah kurang mendukung pengembangan obat-obatan herbal.

Tidak banyak ilmuan seperti Raymond di Indonesia. Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Raymond pekan lalu:

Anda salah satu ilmuan Indonesia yang 100 persen terjun di Industri. Tidak banyak orang seperti Anda di Indonesia. Bagaimana awal karier Anda?

Sebetulnya saya dari tahun 1996 sudah di swasta. 1996 saya masih di Amerika, meneliti di perusahaan farmasi SmithKline Beecham Pharmaceuticals, California. Sejak tahun 2000, saya berpikir untuk mengembangkan produk berbasis bahan alam di Indonesia karena bahan bakunya banyak tersedia. Tahun 2000 pulang ke Indonesia, dan membawa pemikiran itu ke Dexa Medica.

Sejak dulu bercita-cita menjadi dosen dan peneliti akademisi. Tapi pada saat itu lulusan S3 susah mendapatkan pekerjaan sebagai akademisi karena pengurangan kedudukan di fakultas. Makanya saya memilih di swasta, saat itu di SmithKline Beecham Pharmaceuticals.

Saya merasa beruntung masuk ke Industri.

Apa masalahnya di industri? Tahun 1996 saya belajar macam-macam dan menilai, ini adalah tempat saya untuk mengembangkan dan menemukan obat baru. Saat itu banyak melakukan uji klinis di Amerika. Saya meluncurkan obat baru untuk pasar Amerika.

Lalu tahun 2000, saya pulang dan melihat potensi Indonesia besar bukan main dan belum didayagunakan. Tahun 2003, saya memprakarsai membuat laboratorium riset di Dexa Medica.  

Mungkin Dexa satu-satunya perusahaan obat yang melakukan riset di Indonesia. Karena investasinya sangat mahal.

Apa produk yang Anda kembangkan di Amerika saat itu?

Lebih mengembangkan produk dari kimiawi, latarbelakang pendidikan saya farmakolog molukuler. Ada beberapa bahan alam yang saya pelajari, tapi tidak dalam. Namu ada paradigma yang sama dan bisa diaplikasikan ke bahan apa saja. Termasuk bahan alam.

Mengapa Anda tidak memilih profesi sebagai dokter? Sebab farmakolog saat itu belum populer…

Saat itu memang profesi ini belum banyak. Tapi saat saya S1, saya suka bermain di laboratorium. Di S2 lebih suka lagi dengan berbagai eksperimen, sampai merasa itu lah tempat saya hidup. Saat itu saya mempelajari produk poliamin.

Poliamin adalah bahan natural yang ada di dalam tubuh manusia, tapi ternyata kanker sel itu memproduksi secara banyak. Sehingga saya mencaritahu bagaimana cara mengurangi kanker sel dengan cara mengurangi jumlah poliamin. Itu saya pelajari sampai disertasi.

Itu memberikan kepuasan saat saya menemukan suatu yang baru. Karena hasilnya kelihatan. Kemudian saya juga melakukan penelitian saat postdoctor study, saya meneliti prostaglandin. Saya mempelajari kanker prostat, jika prostaglandin dikurangkan maka kanker prostat berkurang. Begitu terjun ke perusahaan farmasi, hasil penemuan itu terlihat dan digunakan oleh dokter.

Pendidikan S1 sampai S3 pendidikan di luar negeri, apakah pendidikan yang Anda jalankan tidak ada di Indonesia?

Saat itu pemilihan saya saja. Tapi saat mau berangkat, saya tidak tahu mau jadi apa. Tapi di sana menemukan ini yang akan saya lakukan seumur hidup. Full saya di Amerika.

Apakah sesulitan Anda saat pertama kali mengembangkan obat dari bahan herbal di Indonesia?

Saat itu fasilitas sangat belum tersedia. Tapi yang pertama tantangannya, mengembangkan sumber daya manusia. Saya banyak traning, saat itu belum ada laboratorium khusus mengembangkan obat dari bahan herbal. Di Dexa, awalnya laboratoriumnya untuk pengembangkan formulasi.

Tahun 2005, di Indonesia belum banyak melakukan uji klinik. Jadi tantangan lain, membuat infrastruktur untuk uji klinik. Mulai dari SDM, desain penelitian, sampai melatih dokter untuk melakukan uji kliik yang baik.

Berapa jumlah obat yang sudah Anda temukan?

Ada 9 obat. Di antaranya obat diabetes, sudah 30 ribu pasien yang sudah menerima obat ini. Kedua, DISOLF. Obat dari isolasi protein cacing tanah yang sudah dipakai para kardiolog dan neurology untuk mengobati penyakit thrombosis atau penyumbatan darah. Misal stroke dan jantung. Lalu, dismenore yaitu untuk mengatasi sakit karena endometriosis. Ada juga, redasit untuk mengatasi asam lambung. 

Berapa jumlah paten yang Anda daftarkan?

Di dalam dan luar negeri ada 20 paten. Ada 4 paten diberikan Dirjen HAKI di Indonesia dan 16 paten diberikan di luar negeri. Ada dari Amerika Serikat, Eropa dan Hong Kong.

Seberapa besar usaha Anda dalam membuat satu penemuan?

Sangat besar, karena saya bekerja dengan tim multidisipliner. Saya memberikan ide dan memimpin tim dari mengembangkan produk sampai bisa masuk ke pasar. Pertama, harus mempunyai ide. Ide itu harus diterima pasar.

Selanjutnya bagi project dari sisi bidang kimia, molukuler, dan lain-lain. Semua anggota tim harus memberikan pendapat agar hasil produk tidak boleh gagal. Tapi penelitian obat-obatan mempunyai banyak risiko  gagal.

Di dunia, ada 10 ribu senyawa tapi belum tentu bisa jadi obat. Mungkin akan menyembuhkan pasien, tapi efek samping negatif besar. Kemudian, obat sudah jadi dan bagus, tapi sulit dibuatnya. Dalam obat herbal juga seperti itu, bahkan pengembangan obat herbal lebih sulit.

Jadi awal merencanakan untuk meneliti sebuah obat, harus dipikirkan kesulitan yang akan dihadapi sampai akhir pengembangan.

Mengapa pembuatan obat herbal sulit?

Kadang karena supply bahan baku tanaman tidak ada, maka dipastikan akan gagal. Atau jika tanaman bahan obat yang hanya ada di kawasan terpencil. Siapa yang ingin menanam? Kadang saat dibawa ke daerah Jawa untuk ditanam, belum tentu tumbuh.

Tanaman herbal kebanyakan bisa tumbuh karena tanahnya bagus, unsur hara, mengandung kelembapan tertentu, kemudian bakteri harus cocok. Untuk membuat produk obat dari herbal, tanaman harus distandarisasi untuk ditanam di suatu tempat. Nantinya tidak boleh diambil dari tempat lain. Ketika tumbuhan itu ditanam di tempat lain, kandungan ekstraknya belum tentu sama.

Artinya jarang sekali tumbuhan herbal yang bisa dibudidayakan…

Betul. Makanya hanya beberapa tumbuhan yang bisa dipakai untuk herbal dan bisa dibudidayakan.

Berapa banyak kegagalan Anda dalam membuat sebuah produk?

Banyak sekali. Dalam rata-rata statistik, satu produk kira-kira bisa gagal meneliti 50 tumbuhan. Untungnya Indonesia mempunyai jenis tumbuhan terbanyak kedua di dunia. Jadi masih banyak yang bisa diteliti.

Dari 9 obat yang Anda temukan, mana yang paling sulit?

Yang paling sulit mengembangkan obat dari cacing tanah. Cacing tanah di Indonesia ada 6 spesies, dan sangat mirip dari sisi fisik. Dari studi DNA, baru akan ditemukan perbedaannya. Membuat produk yang stabil dari cacing tanah sangat sulit.

Cacing tanah mempunyai 20 ribu protein, yang hanya diperlukan 8 protein untuk mendapatkan trombolisis. Sehingga protein yang tidak terpakai harus dihilangkan dari proses biotekologi.

Saat dikembangkan tahun 2006, tidak ada supply cacing tanah yang siap. Karena yang dibutuhkan sekian ton. Akhirnya saya mendapatkan cara untuk memanen dan menggandakan cacing tanah oleh petani. Tapi tidak mudah, cacing tanah di dalam tanah banyak musuhnya.

Kemudian hal yang paling sulit dan lama sekali kita dapatkan, yaitu mengetahui waktu cacing tanah bisa memproduksi protein dalam jumlah besar. Kalau malam hari, cacing sudah lemas dan kandungan proteinnya kecil. Maka harus dipanen pagi-pagi.

Pembuatan produk ini sampai melalui 7 tahun penelitian. Kegagalan sangat sering.

Anda sempat mengatakan pemanfaatan bahan baku alam sebagai obat di Indonesia masih sangat minim. Apa yang terjadi di Indonesia?

Bahan baku alam untuk obat yang saya masukan ada dua jenis. Badan POM menyebutkan klasifikasi obat alam ada 3 jenis, obat tradional/jamu, obat herbal berstandar, dan obat dari bahan alam atau fitofarmaka.

Saat ini banyak bahan herbal dibuat jamu, tapi obat herbal berstandar, dan obat dari bahan alam atau fitofarmaka tidak banyak. Di Indonesia obat herbal berstandar jumlahnya tidak lebih dari 50 jenis. Sementara fitofarmaka hanya ada 8 jenis di Indonesia.

Padahal Indonesia mempunyai 30 ribu lebih tanaman berkhasiat obat. Ini aneh, sementara Jerman mempuyai ratusan obat dari bahan herbal. Jerman mendapatkan bahan bakunya dari Indonesia.

Di luar negeri, obat dari bahan herbal banyak digunakan oleh asuransi kesehatan, semacam JKN di Indonesia. Sementara JKN Indonesia belum memasukan obat dari bahan herbal, banyak obat kimia saja. Makanya Indonesia impor bahan baku obat kimia besar-besaran.

JKN saya tidak mau memasukan obat berbahan herbal sebagai obat resmi mereka. Padahal bahan bakunya ada semua di Indonesia.

Kenapa JKN belum memasukan obat-obatan dari bahan herbal untuk pengobatan? Apakah pemerintah belum percaya dengan khasiat obat berbahan herbal?

Ini masalahnya. Pemerintah harus menggalakan penelitian besar dalam obat herbal. Penelitian ini mulai dari perencanaan, pra uji klinis, uji klinis sampai masuk ke pasar. Kedua, Badan POM juga harus mempunyai kemauan untuk menyetujui produk obat herbal, jangan dipersulit dalam registrasi.

Ketiga, industrinya juga harus diberikan insentif, salah satunya insentif pajak dalam hal penelitian. Malaysia memberikan double tax insentif, jadi biaya produksi dari sisi riset dibebaskan pajak. Korea, Taiwan dan Eropa sudah memberikan pengurangan pajak untuk riset.

Perlu diketahui, industri farmasi dari luar negeri berebut masuk pasar Indonesia karena jumlah penduduknya padat, 250 juta orang. Kalau pemerintah tidak meberikan insentif pajak ke industri lokal, mereka akan kalah bersaing.

Bahkan di fakultas kedokteran, pelajaran tentang obat herbal ini kurang diberikan. Sehingga para dokter tidak tahu tentang potensi obat ini.

Apakah obat berbahan herbal ini sebuah hal baru?

Tidak. Awal mula sejarah kedokteran dari Hippokrates (bapak kedokteran dunia), saat itu belum ada obat kimia. Obat yang diberikan ke pasien saat itu adalah obat herbal. Jadi kedokteran modern itu bukan dari bahan kimia sintetik. Dokteran modern berasal dari bahan tumbuhan.

Bicara soal harga obat, Anda sempat menuliskan paper soal Peran Farmakoekonomi dalam Penentuan Kebijakan yang Berkaitan dengan Obat-Obatan. Bisa Anda jelaskan apa yang Anda tulis?

Farmakoekonomi itu suatu cara untuk menganalisa keefektifitasan suatu obat yang dinilai dari farmakologis dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh suatu rumah sakit terhadap pemberian kesehatan untuk pasien.

ilmu farmakoekonomi belakangan ini mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Ini utamanya terjadi di negara-negara dimana penggantian biaya obat diatur secara ketat di sektor publik maupun swasta. Ide farmakoekonomi lahir dari prinsip inti ekonomi yang di antaranya sumberdaya yang langka dan seringkali makin berkurang memaksa orang untuk menghadirkan produk berkualitas tinggi dengan biaya seminimal mungkin.

Ada 4 cara untuk menilainya, analisa manfaat-biaya (cost-benefit) merupakan perbandingan nilai moneter dari penggunaan alternatif dari sumberdaya.Kedua, analisa efektivitas-biaya (cost-effectiveness) merupakan perbandingan dari biaya terhadap hasil dalam kaitannya dengan hasil kesehatan, seperti pengurangan tingkat LDL darah, atau dalam unit alami, seperti tahun-hidup yang didapat atau hilang.

Ketiga, analisa utilitas-biaya (cost-utility) adalah pengukuran hasil dalam kaitannya dengan sebuah faktor kualitas. Keempat, analisa minimisasi-biaya (cost-minimization) adalah perbandingan antara biaya ketika akibat-akibatnya diasumsikan sama.

Data farmakoekonomi bisa memberikan dukungan berarti untuk berbagai pemeriksaan institusional terhadap medikasi berdasarkan nilai ekonomisnya. Sejumlah keputusan yang bisa memberikan manfaat dari data farmakoekonomi mencakup manajemen formularium, keputusan penanganan pasien secara individu, kebijakan penggunaan medikasi, dan keputusan alokasi sumberdaya.

Bagaimana rata-rata harga obat di Indonesia?

Sekarang harga obat generik Indonesia lebih murah, bahkan dibanding India. Bahkan ada obat generik yang harganya sepertujuh dari harga obat di Amerika. 

Sebagai ilmuan, penemuan apa yang sampai saat ini Anda belum berhasil?

Saya berharap suatu hari saya menemukan obat-obat biologis yang berbasis protein yang dihasilkan tubuh manusia. Saya sudah mulai penelitian ini, tapi belum berhasil. Penelitian sejak 2010, karena memang sulit dan rumit.

Biografi singkat Raymond R Tjandrawinata

Sejak pertengahan tahun, Raymond menghabiskan pendidikannya di Amerika Serikat dengan memulai kuliah jurusan fisika dan biologi di University of the Pacific, Stockton. Kemudian dia kuliah master dengan studi Molecular Biology di University of California, Riverside.

Masih di kampus yang sama, Raymond meneruskan kuliah dengan mengambil gelar doktor Philosophy in Biochemistry. Lalu dia mengambil penelitian Postdoctoral di studi Molecular Pharmacology di kampus yang sama.

Saat ini Raymond menjabat sebagai Direktur Pengembangan di PT Dexa Medica. Selain itu Raymond juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences.

Di juga aktif menjadi pengajar di beberapa kampus. Di antaranya dosen di Fakultas Biotechnology di Universitas Katolik Atma Jaya, Advisory Council Member di Harvard Business Review, Global Board Member of Academic Advisor di American Academy of Financial Management, dan Advisory Council Member di International Management Consultants Board.

Sementara awal kariernya di Amerika Serikat, Raymond pernah menjadi Regional Medical Associate - Northern California SmithKline Beecham Pharmaceuticals.

Sepanjang kariernya sebagai peneliti, dia sudah mendapatkan berbagai penghargaan. Penghargaan pertama yang di dapat tahun 1980-an di kampus. Di antaranya Student Adviser Award di University of the Pacific. Raymond juga pernah mendapatkan penghargaan initernasional dari Jacksonville New York. Di Indonesia, dia mendapatkan penghargaan Future Business Leader Award, Swa Magazine. Terakhir, pekan lalu Raymond mendapat penghargaan Habibie Award 2016.

Raymond pun aktif menerbitkan jurnal ilmiah. Tercatat 100 lebih jurnal ilmiah yang sudah dia terbitkan. Raymond pun memegang 20 hak paten. 

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini