Ujang Koswara: Terangi Desa Gelap Tanpa Teori dengan LIMAR

Ribuan desa yang tak tersentuh PLN diterangi dengan inovasi Limar.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
Ujang Koswara: Terangi Desa Gelap Tanpa Teori dengan LIMAR
Inovator LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat), Ujang Koswara.(Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Berapa jumlah komunitas yang Anda gandeng?

Banyak, saya lupa jumlahnya. Ribuan mungkin.

Berapa desa yang pernah Anda berikan lampu Limar itu?

Banyak sekali, ratusan ribu. Saya tidak tahu persis sejak taun 2008 jumlah desa yang sudah diterangi Limar. Itu di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Di Pulau Sumatera kebanyakan sudah diterangi Limar, begitu juga Jawa dan Sulawesi.

Saya menyasar 30 juta KK yang tidak menikmati listrik.

Awal merintis Limar, Anda mendapatkan dana dari mana?

Pakai uang sendiri, kan dulu saya juga pengusaha. Saya mempunyai modal Rp5 miliar untuk membangun perusahaan ini. Sementara untuk kehidupan rumah tangga, saya jual rumah. Hasil penjualan rumah Rp2 miliar diberikan ke istri.

Uang itu harus cukup untuk 2 tahun. Saya minta selama itu istri tidak meminta uang belanja.

Dari seorang pengusaha yang mencari untung, saya ganti baju ke pengusaha yang bergerak di bidang sosial.

Berapa jumlah produksi lampu Anda?

Setahun, rata-rata ada 1 juta paket yang dibuat.

Bagaimana Anda mendistribusikan Limar ini ke pelosok?

Kami bekerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya TNI. Mereka membantu untuk mendistribusikan. Sebab menerangi negeri ini tugas negara, bukan saya sendiri.

Sekarang, saya merasa sendiri menjalankan ini. Saya mencari pihak perseorangan dan lembaga untuk jadi donatur dan membeli lampu ini, lalu diberikan ke warga miskin.

Saya juga tidak menerima dana APBD dan APBN, karena rumit berhubungan dengan uang negara.

Dulu Anda PNS...

Iya, dosen. Mengajar di Politeknik ITB-Swiss (Politeknik Manufaktur Negeri Bandung) selama 10 tahun.

Kenapa Anda memutuskan untuk keluar dari PNS dan membangun perusahaan sendiri?

Saya merasa selama menjadi praktisi tidak pernah menghasilkan sesuatu. Karena ilmuan di Indonesia berbeda dengan di luar yang banyak riset dan menghasilkan penemuan.

Dengan keluar, saya ingin menciptakan sesuatu tanpa banyak teori, jadilah Limar.

Anda juga pernah mempunyai perusahaan. Bidang perusahaan apa itu?

Perusahaan penyuplai botol oli, ada pabrik botol oli. Menyediakan kemasan untuk oli yang beredar di Indonesia. Perusahaan itu menguntungkan, karena kebutuhan oli di Indonesia tinggi untuk kendaraan bermotor. Sementara botol oli plastik itu dibuang jika sudah tak terpakai.

Tapi selama itu saya merasa bertentangan dengan lingkungan hidup.

Mengapa Anda memilih menggeluti profesi sebagai social entrepreneurship?

Saat saya menjadi PNS dan digaji orang, saya merasa biasa saja dan nggak berinovasi. Sekarang, mendirikan perusahaan berbentuk PT, dengan kegiatan hanya suplai kompoten.

Selain menjual, saya juga sisihkan penghasilan untuk diberikan ke orang lain dalam bentuk Limar.

Anda juga menciptakan inovasi kompor menghasilkan listrik. Bagaimana ceritanya?

Itu baru setahun terakhir.

Latar belakangnya, saya prihatin lihat kelangkaan gas dan banyaknya penebangan pohon yang dilakukan masyarakat pedesaan.

Satu hari, seorang teman yang menjual kompoten elektronik komputer. Dia bangkrut, lalu menjual banyak blower (kipas angin) komputer senilai Rp2 juga untuk biaya berobat ibunya. Saya pun membelinya, tapi sempat bingung fungsi blower ini.

Saya punya ide, blower itu dipasang di kompor untuk mempercepat pembakaran. Sehingga menghemat kayu dan waktu memasak di pedesaan. Kompor rancangan itu dibuat massal oleh masyarakat.

Kegiatan pemasangan dan pelatihan Limar dan Kompor Sakti di Dusun Adat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. (Dok UKO)

Saya siapkan pola atau rancangannya, kelompok masyarakat yang buat berbahan dasar kaleng biskuit bekas. Inovasi kompor ini sudah dipakai di Sumatera dalam pengelolaan kelapa sawit skala kecil.

Lalu, satu ketika anak saya bertanya soal teori energi panas menjadi listrik. Saya pun mencarinya di google, dan mendapat istilah termo elektrik dan pertier. Peltier adalah komponen elektronika yang menggunakan efek Peltier untuk membuat aliran panas pada sambungan antara dua jenis material yang berbeda.

Komponen ini bekerja sebagai pompa panas aktif dalam bentuk padat yang memindahkan panas dari satu sisi ke sisi permukaan lainnya yang berseberangan, dengan konsumsi energi elektris tergantung pada arah aliran arus listrik.

Dalam teori peltier itu menyebutkan perbedaan permukaan panas dan dingin dalam plat bisa menghasilkan listrik. Teknologi ini diterapkan di dispenser rumah tangga. Saya pun mencoba membuatnya dengan membongkar plat besi dispenser punya istri di rumah.

Dalam percobaan itu berhasil menghasilkan listrik 5 watt dengan menggunakan 2 peltier. Akhirnya saya uji coba di kompor tungku dengan menempelkan peltier di kompor itu. Saat ini kompor itu diberinama Hawuko, kompor listrik koswara.

Panas yang dihasilkan bisa dari kompor tungku atau juga tungku untuk membakar sampah. Listrik yang dihasilkan untuk disimpan di aki atau baterai. Tidak bisa langsung dipasang lampu.

Kompor itu tidak diperjual belikan, tapi hanya dibuat oleh kelompok masyarakat di pedesaan. Sebab peltier mudah didapatkan di toko elektronik dengan harga Rp30 ribuan.

Anda dikenal saat memasang baliho “bukan calon wali kota” di Bandung. Mengapa Anda melakukan itu?

Saya gregetan banyak orang yang pasang iklan di jalan dan mengaku calon wali kota, padahal belum tentu dan belum pasti. Hanya mengotori ruang publik.

Sebelumnya saya cenderung senyap saja, bantu orang saja, cukup. Bahkan punya Facebook atau media sosial lain, baru setahun belakangan. Itu pun anak saya yang mengelola.

Biografi singkat

Ujang Koswara lahir di Garut, Jawa Barat, 15 Oktober 1968. Dia wirausahawan sosial dan pegiat pemberdayaan masyarakat.

Ujang pernah kuliah jurusan kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama 1 tahun. Kemudian dia melanjutkan pendidikan ke Politeknik Manufaktur Swiss - ITB di Kanayakan, Bandung. Dia ikut program ikatan dinas sebagai staf pengajar di sana dengan status PNS. Ujang menyelesaikan program sarjana di Jurusan Teknik Industri Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI).

Tahun 2003 dia mengundurkan diri sebagai PNS. Ujang membangun usaha di bidang manufaktur dan engineering, PT. Buatan Guna Indonesia, bersama temannya. Begitu menjual aset perusahaannya, Ujang pun membangun perusahaan berbasis pemberdayaan masyarakat, PT. Catur Reka Pilarindo.

Ujang juga mendirikan Yayasan Pilar Peradaban sejak 2009. Yayasan Pilar Peradaban didirikan bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan mendasar di daerah – daerah terpencil, tertinggal dan di perbatasan dengan memberikan berbagai solusi dalam menghadapi berbagai macam kendala yang biasa dihadapi masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat lewat pelatihan – pelatihan dan membantu secara langsung lewat pendistribusian bantuan dari pihak ketiga.

Dengan berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Pilar Peradaban, maka diharapkan masyarakat menjadi produktif sehingga dapat meningkatkan tingkat perekonomian di masyarakat terpencil, tertinggal dan diperbatasan.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini