Senin, 17 Desember 2018

Adrin Tohari: WISELAND LIPI, Pendeteksi Ancaman Tanah Longsor

Dampak dari bencana selama itu, tercatat 377 orang meninggal dan hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi dan menderita.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
Ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari. (dok Adrian Tohari)
Ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari. (dok Adrian Tohari)

Suara.com - Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), longsor menjadi salah satu bencana utama sepanjang tahun 2017 lalu. Dari 2.341 kejadian bencana, ada 614 peristiwa longsor selama tahun itu.

Dampak dari bencana selama itu, tercatat 377 orang meninggal dan hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi dan menderita.

Sejak tahun 2014 hingga 2017, bencana longsor adalah bencana yang paling mematikan. Paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia. Seringkali longsornya kecil namun menyebabkan satu keluarga meninggal dunia. Hal ini disebabkan jutaan masyarakat tinggal di daerah-daerah rawan longsor sedang hingga tinggi dengan kemampuan mitigasi yang belum memadai. 

Masih catatan BNPB, dari semua titik rawan longsor di seluruh Indonesia ada sekitar 40,9 juta jiwa yang masih tinggal di dalamnya. Bahkan jalur komersial untuk kereta dan transportasi darat pun dilingkari teror longsor. Di Jawa Barat saja, ada di 47 titik rawan longsor.

Dari catatan mengerikan itu, Ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari menciptakan sebuah sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel atau WISELAND. Alat ini dikembangkan Tohari bersama ilmuwan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, Suryadi.

Ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari bersama ilmuwan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, Suryadi memantau WISELAND. (dok Adrin Tohari)

Ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari bersama ilmuwan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, Suryadi memantau WISELAND. (dok Adrin Tohari)

Intinya, alat yang mereka buat mampu mengirimkan pesan akan terjadinya longsor, sehingga bisa meminta masyarakat di sekitarnya untuk mengevakuasi diri. Selama ini, longsor tidak bisa diprediksi kejadianya, sama seperti gempa.

Sebagai ‘supermarket bencana’, Indonesia membutuhkan WISELAND. Berbincang dengan suara.com, ilmuwan lulusan Inggris dan Jepang itu bercerita mekanisme kerja alat ini. Selain itu dia juga menjelaskan kawasan rawan longsor di Indonesia.

Berikut wawancara lengkapnya:

LIPI mengembangkan alat yang bisa memberikan peringatan dini terhadap longsor bernama WISELAND. Anda ilmuwan yang memimpin proyek ini. Bagaimana proses pembuatan WISELAND?

Alat ini sudah dikembangkan lewat serangkaian penelitian sejak 2009 oleh Pusat Penelitian Fisika LIPI yang berlokasi di Kawasan Puspiptek Serpong. Tapi mereka fokus pada pengembangan jenis sensor untuk mengukur pergerakan lereng. Sensor untuk mengukur pergerakan lereng ada 2 jenis, ekstensometer dan tiltmeter.

Ekstensometer untuk mengukur pergerakan kaki lereng, sementara tiltmeter untuk mengukur kemiringan lereng. Keduanya dikembangkan Pusat Penelitian Fisika LIPI.

Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Kemudian tahun 2012, saya punya ide bersama tim, bagaimana kami bisa mengintegrasikan sebuah sistem yang terpadu. Hasilnya semua sensor bisa mengirimkan data atau pesan ke gateway, lalu mengirimkan data ke server.

Kami juga mengembangkan sensor modul untuk mengukur perubahan kadar air dan kenaikan muka air tanah. Kesemua itu, sensor kami satukan menjadi sebuah sistem yang kami sebut sebagai Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND) atau Sistem Pemantauan Gerakan Tanah Berbasis Jejaring Sensor Nirkabel.

Sehingga 3 jenis sensor yang terpasang - ekstensometer, tiltmeter, sensor modul (piezometer dan soil moisture) – menggunakan frekwensi radio 2,4 GHz. Jarak komunikasi wireless 3 jenis sensor ke gateway bisa sampai 2 Km, asalkan tidak ada penghalang.

Dalam sistem ini, gateway merupakan penerima data dari sensor. Lalu mengirimkan data ke pusat pengamatan, seperti di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Di mana alat ini diuji coba?

Sistem ini sudah dikembangkan sampai tahun 2017, hasil akhirnya sudah dipasang di 3 lokasi. Di Desa Pangalengan dipasang versi sensor pertama. Kemudian sensor generasi kedua dipasang di lereng Tol Cipularang KM 100, tapi alatnya dicuri. Sehingga hanya merekam aktivitas lereng di sana hanya 6 bulan.

Kemudian alat-alat yang tidak dicuri itu diperbaiki, lalu dipindahkan pemasangannya di Jembatan Cisomang untuk memantau deformasi tiang jembatan.

Versi terakhir alat ini dipasang di Desa Clapar Banjarnegara.

Sampai kini sudah ada 3 generasi WISELAND. Di mana perbedaan inovasi masing-masing versi atau generasi sistem sensor ini?

Perbedaannya di satu daya dan dimensi alat. Daya untuk generasi pertama menggunakan baterai aki 12 volt dan menggunakan solar panel 20 watt peak (wp). Sehingga terlihatnya cukup besar ukurannya.

Lalu untuk generasi kedua menggunakan mini solar panel yang hanya berdaya kurang dari 10 wp, baterainya pun menggunakan lithium 3,7 volt.

Generasi ketiga, kami menggunakan baterai lithium berukuran AAA atau AA. Sehingga semakin lama, semakin kecil. Kami mengoptimalkan daya di sensor modul.

Bagaimana dengan bahan baku pembuatannya?

Sebesar 50 persen bahan baku bisa di dapat di Pusat Elektronik di Glodok, Jakarta. Sebagian lain impor, karena tidak bisa ditemukan di dalam negeri.

Sementara solar panel bisa dibeli di Surabaya. Sementara yang impor, teknologi komunikasinya. Selain itu potensio meter pun impor.

Berapa biaya untuk membuat WISELAND?

Kami perhitungkan sekitar Rp10 juta untuk membuat sensor. Sementara untuk membuat gateway sekira Rp25 juta karena memerlukan baterai dan solar panel besar sebanyak 100 wp.

Namun sebuah gateway bisa menerima data dari sensor di beberapa kawasan. Tergantung luasan kawasan lereng yang berpotensi longsor yang diamati.

Bagaimana kalau sensornya dipasang lebih jauh dari 2 km? Data dari sensor yang jauh itu masih bisa kirim pesan ke gateway dengan bantuan sensor terdekat atau secara estafet.

Bagaimana proses detail cara kerja alat itu?

Pertama, kami mencari daerah yang sudah diketahui tingkat kerawanan longsor. Kami pasang alat itu di sana.

Kemudian kami pasang 3 jenis sensor itu.

Sensor tiltmeter yang untuk mengukur kemiringan lereng, jika tanah bergerak maka akan merubah sudut kemiringan. Kami juga akan memasang wireless ekstensometer untuk memantau keretakan lereng. Jika ada keretakan maka kabel ekstensometer akan tertarik dan menunjukan seberapa besar laju perubahan retakan.

Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Sistem kerja Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Lalu, kami juga akan memasang sensor modul yang akan terhubungan dengan perubahan kadar air dan tinggi permukaan tanah.

Ketika hujan turun, sensor yang akan mendeteksi adalah sensor kadar air yang dipasang dekat permukaan tanah. Sensor ini akan mengukur tingkat kejenuhan tanah.

Ketika nilai yang dikirimkan melebihi batas ambang yang sudah kami tentukan, operator di pusat pemantauan akan memutuskan memberikan peringatan atau tidak.

Keputusan memberikan peringatakan ke masyarakat berdasarkan grafis yang disajikan lewat gateway.

Sensor selanjutnya, ekstensometer yang akan mengukur keretakan yang terjadi di lereng. Data yang terkirim itu akan memberikan peringatakan ke masyarakat untuk segera melakukan evakuasi.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk pengolahan data itu, hingga pesannya bisa sampai ke masyarakat?

Jika dalam kondisi hujan, bisa sampai 6 jam. Sehingga ada cukup waktu masyarakat untuk evakuasi dini.

Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND). (dok Adrian Tohari)

Bagaimana jika longsor terjadi saat tidak dalam keadaan hujan atau sedang kemarau? Apakah bisa juga diukur dengan alat itu?

Bisa.

Longsor yang terjadi saat kemarau biasanya disebabkan aktivitas manusia. Terutama di lereng yang terdapat aktivitas penggalian atau tambang pasir.

Apakah alat ini sudah bisa dibuat massal?

Sudah bisa diproduksi massal, karena prototipenya sudah skala industri.

Tapi belum ada industri yang mau memproduksi. Hanya saja sudah ada stakeholder dari perusahaan Jepang yang ingin mengkombinasikan teknologi alat ini dengan alat yang mereka punya.

Apa bedanya dengan alat yang dimiliki Jepang?

Di Jepang, pendeteksi longsor digunakan untuk mendeteksi material longsoran. Karena di Jepang banyak longsoran aliran bahan rombakan. Alat itu mendeteksi material longsoran ke arah kaki lereng.

Sementara WISELAND LIPI ini sifatnya mendeteksi sekaligus memberikan peringatan.

Apakah alat serupa WISELAND LIPI sudah ada di dunia?

Sudah ada, di Jepang, Italia dan Jerman. Tapi rata-rata mereka mengukur longsoran lereng bebatuan. Tanah labil di sana lebih sedikit.

LIPI WISELAND mempunyai keunggulan teknologi yaitu dapat menjangkau daerah pemantauan yang luas  berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi dan memiliki catu daya mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai kering atau lithium.

LIPI WISELAND dapat digunakan tidak hanya untuk memantau ancaman gerakan tanah atau tanah longsor tetapi juga untuk memantau kondisi keamanan struktur tiang bangunan tinggi seperti jembatan dan gedung bertingkat.

    Selanjutnya chevron_right

    Berita Terkait

    Terpopuler

    Terkini