Rabu, 19 Desember 2018

Sapri Sale: Anak Pesantren Mengenal Israel dari Bahasa Ibrani

Sekarang dia percaya, tak sepenuhnya Israel itu jahat.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana | Erick Tanjung
Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)
Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Suara.com - Seorang santri lulusan Pondok Pesantren Darrut Tauhid Malang berpikiran terbuka tentang stigma Israel   di kalangan muslim Indonesia. Sekarang dia percaya, tak sepenuhnya Israel itu ‘jahat’.

Lewat pengetahuannya berbahasa Ibrani, Sapri melahap literasi-literasi asal Israel, terutama tentang hubungan Yahudi dan Islam. Dia menjadi santri yang terbuka setelah membaca literasi itu, jika Yahudi bukan musuh Islam. Bahkan keduanya sebenarnya bersahabat dan mempunyai ‘turunan’ yang sama.

Ingin publik Indonesia terbuka seperti dirinya, salah satu manajer di maskapai penerbangan Thailand itu pun membuka khursus bahasa Ibrani pertama di Jakarta, bahkan di Indonesia. Dia sudah open public.

Media internasional pun memperbincangkan Sapri karena keberanian dia membuka kursus bahasa Israel. Bahasa Ibrani adalah bahasa Semitik dari cabang rumpun bahasa Afro-Asia yang merupakan bahasa resmi Israel, dan dituturkan sebagian orang Yahudi di seluruh dunia.

Sejak Februari 2018, lelaki berusia 52 tahun itu membuka dua kelas bahasa Ibrani di Pusat Hubungan Antaragama dan Perdamaian Indonesia di Jakarta Pusat. Sebanyak 20 siswa belajar di sana setiap Minggu dan Rabu.

Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Suara.com datang ke kelasnya pekan lalu. Selesai kelas, Sapri bersedia bercerita banyak tentang perjalanannya dari A sampai Z. Termasuk, apakah lelaki 52 tahun ini mendapatkan ancaman dari kelompok antiYahudi?

Berikut perbincangan lengkapnya:

Anda membuat kamus Indonesia-Ibrani. Bagaimana awalnya?

Kamus ini dwi bahasa. Bahasa yang satu, untuk digunakan orang Indonesia, yang satu lagi untuk orang Israel. Untuk orang Israel, supaya bisa belajar bahasa Indonesia.

Orang indonesia bisa belajar bahasa Ibrani, orang Israel bisa belajar bahasa Indonesia

Tujuannya selain khazana literatur yang perlu hadir di Indonesia, mendorong kedua bangsa saling mempelajari bahasa satu sama lain, di samping diharapkan bisa menjadi jembatan dari budaya yang belum pernah dicoba untuk dikaji.

Karena selama ini orang Indonesia anti Yahudi, sedikit alergi, bahkan agak tabu.

Bahkan meningkat hal yang tabu tapi, lebih cocok terminologi alergi. Itulah kenapa, saya buat kamus Indonesia-Ibrani. Dia juga berfungsi sebagai karya literatur dan suatu hazanah pelajaran baru di Indonesia.

Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Anda mempunyai buku belajar bahasa Ibrani, apakah publik bisa belajar sendiri dari sana?

Belajar otodidak, sangat bisa. Meskipun tidak menguasai bahasa Arab. Buku ini tidak ada di gramedia, buku ini dijual dari mulut ke mulut saja.

Kami cetak sendiri karena kami sudah mencoba menghubungi beberapa penerbit dan tidak ada yang mau dengan alasan komersial menurut saya. Alasan mereka nggak ekonomis, bukan kebutuhan publik, diprediksi nggak laku, dan sensitivitasnya sebagai buku yang kontroversi.

Apakah Anda mendapatkan bantuan dari lembaga donor atau pun pemerintah Israel?

Selama ini saya sudah mendapatkan beberapa bantuan dan tawaran. Namun sepanjang perjalanan saya mempublikasikan buku dan kamus saya ini, semua berdasarkan self funding.

Bukan saya tidak mau menerima bantuan, tapi saya lebih nyaman bekerja dengan kocek saya sendiri, dengan hasil keringat saya sendiri, independen dan bisa dilihat dari karya-karya saya. Isinya kalau ada sponsor atau tidak? Itu saja.

Apakah ini hal baru di Indonesia?

Sekolah tinggi teologi yang sudah mempelajari ibrani. Cuma yang dipelajari adalah klasik, biblical (Ineransi Alkitab), atau juga Alkitab. Sehingga studinya terbatas.

Hanya mengkaji kalimat-kalimat yang ada di Alkitab.

Kali ini saya hadir dengan Ibrani modern, yang notabene bahasa itu digunakan bangsa Israel sehari-hari. Sebagian orang Yahudi di luar tak bisa berbahasa Ibrani, seperti halnya orang Arab yang sudah berimigran di luar tak bisa berbahasa Arab.

Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Saya kasih contoh huruf pertama alef sama dengan aliv. Lalu “Ba” bahasa Arabnya, “Bed” dalam bahasa Ibrani, dan “Gmel” sama dengan “gim”. Jadi punya kesamaan.

Ini bahasa serumpun. Alangkah rancunya, jika hanya mengetahui satu rumpun bahasanya yaitu di sisi Arabnya. Semakin lengkap tools kita untuk mempelajari tentang teologi atau keagamaan atau tentang Timur Tengah tanpa dua tools itu, Arab dan Ibarani.

Ini keterkaitannya sangat erat sekali, sehingga bisa kita mempelajari dua bahasa itu. Kita bisa menemukan kok, ini sama. Ya karena mereka sama

Apa yang mendorong Anda untuk belajar bahasa Ibrani, selain alasan penting untuk literasi dan lainnya?

Awalnya fenomena di Mesir akhir 80-an dan awal 90-an. Pada jaman saya kuliah di sana. Saya melihat bahwa media-media, bukan hanya media cetak atau TV, bahkan dari literature. Literatur Arab tidak banyak melihat sisi-sisi positif ke-Yahudi-an atau ke-Israel-an sendiri.

Sehingga untuk mengkaji atau mengetahui sisi-sisi positif sangat sukar, sehingga dengan sendirinya mereka membaca teks-teks dalam bahasa Arab tentang Yahudi atau Israel terpola menjadi hal yang negatif.

Sementara dalam kajian akademisi atau orang kampus, harusnya ada keseimbangan. Saya tidak pernah menemukan fasilitas atau tools yang untuk mengimbangi cara berpikir seperti itu. Sehingga saya berpikir harus belajar bahasa Ibrani. Satu-satunya teks yang bisa menormalisasi atau meluruskan cara pandang dari satu sisi adalah dengan membaca teks ibrani itu sendiri.

Saya pun putuskan harus belajar bahasa Ibrani.

Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Sejak kapan Anda membuka kursus bahasa Ibrani?

Saya sudah memulai kursus bahasa Ibrani semenjak Agustus tahun lalu. Jumlah muridnya sudah hampir mencapai 70 orang.

Saya mengajar karena ingin sosialisasi.

Saya mengajar program 8 kali pertemuan dalam 1 bulan. Targetnya, semua murid-murid saya sudah bisa membaca bahasa Ibrani dalam 8 kali pertemuan itu.

Selanjutnya butuh 2 sampai 3 bulan lagi untuk komunikasi. Yang paling, mereka sudah bisa membaca. Sehingga belajar selanjutnya lebih gampang.

Jadi, apa dasar yang dibutuhkan untuk bisa mudah belajar bahasa Ibrani?

Bukan hanya bisa Alkitab, melainkan semua teks tertulis dalam bahasa Ibrani. Karena tulisan Alkitab tidak berbeda dengan tulisan Ibrani modern. Sama-sama berjumlah 22 huruf, cuma ada beberapa huruf yang pelafalannya beda.

Itu yang membuat berbeda sedikit. Jika orang belajar Ibrani modern, dengan sendirinya bisa menyesuaikan dengan teks klasik. Termasuk di dalamnya teks Alkitab.

Itu yang saya alami.

Sapri Sale. (suara.com/Erick Tanjung)

Apakah sulit mempelajari bahasa Ibrani?

Saya punya 2 pengalaman mengajar, ada 2 background. Latar belakangnya tidak pernah mempelajari alfabet Arab, dan yang sudah biasa dengan alfabet Arab. Bagi kalangan Islam, sudah diajarkan mengaji.

Dari 2 background ini, yang sudah terbiasa dengan alfabet Arab prosesnya lebih cepat 2 kali lipat, dibanding orang yang belum pernah mempelajari itu.

Itu dalam proses membaca.

Untuk proses mengajarkan bahasanya, bahasa Ibrani jauh lebih mudah dibandingkan bahasa Arab. Karena huruf-hurufnya independen, berdiri sendiri, dan tidak pernah disambung. Sementara bahasa Arab setelah disambung dia berubah bentuknya.

Bahasa Ibrani tidak pernah berubah bentuknya. Itulah alasan bahasa Ibrani lebih mudah dipelajari.

Bagi orang yang sudah mempelajari bahasa Arab setahun sampai dua tahun, dia akan mampu belajar bahasa Ibrani secara otodidak. 

Selanjutnya chevron_right

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini