Selasa, 18 Desember 2018

Jatmiko : Mengungkap Misteri The Hobbit Indonesia di Goa Liang

Penggalian Homo Floresiensis dimulai tahun 2001 silam, tapi sampai kini masih banyak misteri yang belum terpecahkan.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana
Arkeolog Indonesia, Jatmiko. (Dok Pribadi)
Arkeolog Indonesia, Jatmiko. (Dok Pribadi)

Suara.com - Ilmuwan asal Indonesia, Jatmiko masuk dalam daftar ilmuan paling berpengaruh dalam The World's Most Influential Scientific Minds 2014. Bekerja di tempat sepi dan gelap, tidak membuat arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) itu tak terlihat.

Dunia mengakui penemuan besar Jatmiko di Goa Liang Bua , salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Di sana dia menemukan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis .

Penggalian Homo Floresiensis dimulai tahun 2001 silam, tapi sampai kini masih banyak misteri yang belum terpecahkan.

Saat itu, Homo Floresiensis yang digali di kedalaman 5,95 meter tersebut berjenis kelamin wanita. Usia hobbit itu semasa hidup sekira 25 tahun dengan volume otak 380 cc, tinggi badan 106 cm. Dia hidup 100.000 - 50.000 tahun lalu dari batu dan belum mengenal logam.

Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Suara.com berbincang dengan Jatmiko, pekan lalu. Dia banyak mengungkap hasil penelitiannya.

Berikut wawancara lengkapnya:


Sejak kapan Anda menekuni arkeologi?

Saya sudah lama sudah 25 tahun saya menjadi peneliti. Mulai PNS dan langsung peneliti sejak tahun 1989 kini saatnya sudah pensiun karena umurnya sudah 61

Saya itu sudah malang melintang, dari Aceh, Medan sampai Jawa. Situs-situs tua yang bekaitan dengan prasejarah saya sudah menjelajahi bahkan Ambon, Maluku, Irian. Untuk saat ini saya fokus di NTT karena banyak potensi yang belum terekspose ke luar.

Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Bisa ceritakan, apa saja yang Anda dilakukan saat ini?

Saya sedang melakukan penelitian di Gua Liang di flores. Sekarang ini instansi kami bekerjasama dengan University of Canada, penelitian ini dimulai 28 maret 2018 sampai dengan 10 Juni 2018.

Saya sudah dua bulan berada di Flores. Saya memulai penelitian ini sejak tahun 2001 hingga saat ini.

Di mana tepatnya lokasi penelitian Anda?

Desa Liang Aua, Kecamatannya Raung Utara, Kabupatennya Manggarai. Letaknya barat laut dari ibu kota Maggarai, Kota Ruteng. Sekamir 14 Km.

Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Anda masuk sebagai ilmuan berpengaruh di Dunia, bisa ceritakan awal mula penemuannya dari mana?

Memang kami mendapat pengakuan itu. Kami sering mempublikasi temuan ini di jurnal Internasional. Sudah banyak kami melakukan kajian ilmiah. Adapun untuk riwayat menemukan fosil manusia Mobbit atau Homo Florensiensis itu sejak 2003, lalu kami publikasi dalam majalah jurnal internasional Nature di Amerika.

Namun pada tahun 2004 temuan itu menjadi kontradisksi ilmuan di dunia. Penemuan kami dianggap sudah biasa, berbagai tulisan saling menyanggah. Akan tetapi banyak tulisan yang kemudian mendukung kami.

Persoalan kontradiksi para ilmuan itu ada dua pandangan: ada yang mengatakan temuan kami itu manusia fosil modern, sisi lain ada yang menyatakan temuan kami itu fosil manusia yang sangat unik, kombinasi homo erectus dan manusia modern. Memang sampai saat ini perdebatan para ilmuan masih hangat didiskusikan. Dalam kajian ilmiah hal tersebut memang sangat lumrah terjadi.

Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Apa yang menjadi unik temuan itu?

Kami bicara Fosil Hobbit atau kami menyebutnya Homo Floresiensis, sebelum saya jelaskan lebih dalam, saya mau gambarkan dulu lokasi penelitian yang kami lakukan. Lokasi penelitian ini mempunyai fase hunian yang panjang, tertua dihuni oleh homo Floresiensis itu berada paling bawah periode kehidupannya mencapai 100.000 - 50.000 tahun yang lalu.

Kemudian untuk lapisan atasnya dibatasi oleh lapisan gunung api di Liang Gua ada hunian fase Holosen sampai paleometalik.

Saat dihuni hobbit mulai dari 100.000 tahun sampai awal abad masehi ada hunian di liang gua. Tahun ini kami lagi mencari batas manusia modern dengan homo Floresiensis.

Ada manusia tertua tapi indikasinya masih sedikit.

Kami lagi menelusuri manusia tertua di liang guayang kami prediksi umurnya lebih dari 40.000 tahun hal ini yang menjadi prioritas utama penelitian kami dua tahun ini.

Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Maksudnya diduga ada manusia tertua...

Iya, ini masih kami cari. Kendala kami itu pada data masih minim, kami lagi mengejar itu untuk mencari tahu kaitannya dengan manusia modern tertua yang ada di Liang Goa.

Anda bilang banyak penghuni di Liang Goa. Tapi bagaimana menentukan itu Hobbit atau bukan saat penemuan awal?

Kami punya metode dalam arkeologi yang itu juga melibatkan beberapa ahli yang tidak hanya arkeologi, ada ahli biologi, bioteknologi dan berbagai macam. Kami ambil sempelnya seperti tulang, karbon, arang. Setelah itu kami lakukan cating. Maka dari itu prosesnya tidak bisa dilakukan oleh arkeolog saja. Untuk menentukan umurnya pun harus butuh bidang ilmu lainnya.

Untuk menentukan manusia hobbit, kami melakukan kerjasama dengan Canada dan Amerika. Masing-masing punya ahlinya.

Pada konteks binantang pun beda-beda. Kemaren kami temukan Stegedon-gajah purba ada juga gajah kerdil seukuran kerbau, kemudian ada Giant maramotom yang hanya hidup di Afrika.

Semua itu kami temukan di Liang Goa. Bahkan ada juga kami temukan fosil komodo dragon.

Selanjutnya chevron_right

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini