Lalu Muhammad Zohri, Sepak Bola, Impian Olimpiade dan Pesan Kakak

Lalu Muhammad Zohri bercerita soal sosok ibu guru yang memotivasinya, juga menitip pesan bagi anak-anak muda lainnya.

Suara.Com
Arsito Hidayatullah | Arief Apriadi
Lalu Muhammad Zohri, Sepak Bola, Impian Olimpiade dan Pesan Kakak
Lalu Muhammad Zohri, atlet muda Indonesia di cabang olahraga atletik. [Suara.com/Arief Apriadi]

Sebagai yatim piatu, bagaimana seorang Lalu Muhammad Zohri bisa terus bersemangat untuk menjadi yang terbaik di olahraga atletik, khususnya lari?

Saya sebelum latihan, saya punya target sebenarnya. Saya berpikir harus punya tujuan. Percuma jika latihan terus-menerus dan tidak mendapatkan hasil. Hanya rasa capek saja yang didapat.

Itu yang membuat saya semangat latihan. Kita harus menanam target dan tujuan.

Dari awal ke PB PASI, langsung lari 100 meter atau dicoba ke nomor lain?

Tidak. Saya sejak bergabung di PPLP NTB itu sudah mengikuti spesialis di lari 100 meter.

Terkait keikutsertaan di estafet 4x100 meter putra, saya juga tidak terhitung baru. Karena dulu di PPLP juga pernah ikut di estafet.

Sehabis juara di Finlandia kamu dapat banyak hadiah. Tanggapannya?

Saya tak memikirkan semua itu sekarang, mungkin untuk nanti saja. Untuk menjadi PNS atau TNI, saya belum memikirkan lebih jauh. Memang ada banyak tawaran, tapi saya belum mau ambil. Saya masih berpikir-pikir dahulu.

Terganggu tidak dengan banyaknya pemberitaan di media massa tentang kamu, dan dipanggil ke mana-mana?

Sebenarnya tidak juga sih. Namun ada juga saat saya sedang istirahat, waktu latihan, dipanggil dan diwawancarai, itu kadang-kadang memang mengganggu. Tapi sebenarnya tidak masalah juga sih.

Setelah juara, nama kamu melambung. Apa nasihat yang diberikan oleh kakak kamu?

Pastinya ada. Kakak saya bilang, saya tak boleh menjadi sombong. Kakak bilang saya harus tetap menjadi Zohri yang dulu, yang biasa-biasa saja.

Saya kalau pulang ke kampung halaman juga biasa-biasa saja, tidak seperti atlet. Saya bermain seperti biasa saja dengan teman-teman. Saya memang gaul kalau di kampung, tapi ya, biasa-biasa saja.

Sebelum ke Finlandia, kamu mengikuti training camp lebih dulu di Amerika Serikat bersama pelatih Harry Marra. Apakah itu sangat berpengaruh pada penampilan kamu?

Berpengaruh. Dari sana saya dapat ilmu yang banyak. Pelatih memperbaiki hal-hal yang masih salah dari saya, seperti keluar dari start block, ayunan tangan yang salah. Pokoknya banyak yang saya pelajari dari sana (Amerika Serikat).

Setiap latihan kamu harus pasang target. Untuk kali ini di Asian Games, apa target pribadi seorang Lalu Muhammad Zohri?

Ya, targetnya sih, semoga saya bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Itu saja sih. Karena saya melihat juga musuh-musuh yang akan turun larinya ini gila-gila ya, hehehe.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak sprinter Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, keliling Istana Bogor, Jawa Barat, dengan menggunakan mobil golf, Rabu (18/7/2018). [Suara.com/Dwi Bowo Raharjo]
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak sprinter Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, keliling Istana Bogor, Jawa Barat, dengan menggunakan mobil golf, Rabu (18/7/2018). [Suara.com/Dwi Bowo Raharjo]

Grogi main di Asian Games pertama kamu?

Saya takut sih tidak, ya. Mungkin saya sudah belajar banyak hal di Pelatnas. Saya diajarkan yang namanya unifikasi, agar bisa tetap fokus, tidak tegang saat di lapangan. Jadi, tak ada (grogi). Saya siap tampil nanti.

Tanggapan terkait lawan-lawan di Asian Games untuk lari 100 meter putra, bagaimana? Catatan waktu pelari negara lain bahkan ada yang di bawah 10 detik?

Kan saya tidak ditargetkan di nomor lari 100 meter. Jadi mungkin saya hanya bisa menargetkan untuk memperbaiki catatan waktu saya saja, atau memperbaiki teknik. Hanya itu saja sih.

Melihat lawan seperti itu, saya sih biasa-biasa saja, tak ada beban. Doakan saja saya bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Target kamu setelah berhasil menjadi juara di Kejuaraan Dunia Atletik U-20, dan sekarang ikut Asian Games 2018?

Saya masih ingin terus meningkatkan kemampuan saya. Perjalanan karier saya masih panjang. Semoga saya bisa mengikuti Olimpiade 2020 di Tokyo.

Ada ritual khusus sebelum bertanding?

Saya baca doa saja sih, kalau sebelum bertanding.

Kalau ada klub sepak bola yang merekrut, apakah kamu tertarik bergabung?

Cukuplah untuk saat ini. Itu hanya cita-cita saya dahulu saja. Untuk sekarang, saya ingin berdiam di dunia atletik saja. Hehehe.

Apa hobi kamu selain menjadi pelari?

Dulu saya hobinya ya, sepak bola. Selain itu, hobi saya olahraga saja. Saya juga suka mendengar orang mengaji.

Dulu kan kamu mengidolai Sudirman Hadi, sekarang Lalu Muhammad Zohri malah jadi idola bagi banyak anak-anak lain. Apa pesan kamu untuk mereka, khususnya untuk kampung kamu sendiri di NTB?

Ya, semoga kalian di sana jangan cepat menyerah. Latihanlah yang giat, semangat. Jika kalian mau berlatih dengan semangat dan punya target yang besar, ya, semoga kalian bisa berprestasi, dan bisa lebih dari apa yang saya capai saat ini.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini