Rabu, 19 Desember 2018

Yasmin Winnet : Pendidikan adalah Modal Kehidupan

Di mata Yasmin Winnet, si pendiri Sekolah Gunung Merapi, ada yang keliru dalam konsep pendidikan di Indonesia selama ini.

Suara.Com
Arsito Hidayatullah
Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]
Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]

Suara.com - Setiap warga punya hak mendapatkan pendidikan yang layak. Negara berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekilas kalimat tersebut sederhana, namun nyatanya masih sulit untuk diimplementasikan. Sekolah kadang bukan tempat untuk memadu ilmu dan pengetahuan, melainkan hanya sebagai kebutuhan agar seorang anak bisa bersekolah.

Esensi pendidikan menjadi rancu, ketika seorang anak diposisikan sebagai murid yang harus menerima pelajaran dari guru. Apa yang dikatakan guru seolah menjadi pembenar segalanya. Ketika murid salah atau berbeda pendapat, guru memilih untuk memberikan nilai buruk padanya, dengan alasan tidak hormat kepada guru.

Hal tersebut tidak berlaku bagi Yasmin Winnet , seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris yang mempunyai darah Indonesia. Terlahir di Indonesia, tak berselang lama ia harus meninggalkan negeri ini untuk mengikuti keluarganya yang mendapatkan pekerjaan di Inggris. Nyatanya, rasa penasaran akan Indonesia masih ia genggam erat. Di Indonesia, tanah kelahirannya, ia ingin hidup dan berkontribusi.

Ketika masuk masa perkuliahan, Yasmin mengambil studi Sastra Indonesia dan Geografi di School of Oriental & African Studies (SOAS), University of London. Dari studi itu, ia pun belajar banyak tentang Indonesia dan mengenal masa kecilnya.

Tahun 2010, Yasmin mengikuti program belajar di Indonesia. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Namun di luar dugaan, di tahun itu ternyata terjadi erupsi besar Gunung Merapi. Yasmin pun akhirnya ikut berkontribusi membantu warga lereng Merapi di lokasi pengungsian, yang lantas membuatnya dekat dengan masyarakat Merapi.

Merasa ada hal yang perlu dilakukan lebih jauh, Yasmin kemudian berinisiatif mendirikan sebuah sekolah yang ia beri nama Sekolah Gunung Merapi (SGM). Letaknya di Pangungrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, yang berada di area 7 kilometer di lereng Gunung Merapi. Di sekolah itulah ia mengajar sekitar 40 anak beserta masyarakat desa; aktivitas yang diakuinya merupakan sebuah tantangan, di mana ia berharap kelak anak didiknya bisa berkontribusi bagi bangsa Indonesia.

Ada empat hal mendasar yang berusaha diajarkan Yasmin Winnet di Sekolah Gunung Merapi, antara lain yaitu pentingnya mitigasi bencana, toleransi, ekologi, serta nutrisi untuk masyarakat lereng Merapi. Pekan lalu, Suara.com berkesempatan menjumpai sang pendiri sekolah yang berdiri sejak 2015 itu. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana pertama kali ke Indonesia?

Saya sebenarnya lahir di Indonesia, (namun di) masa kecil nggak sering di Indonesia. Saya balik ke Indonesia tahun 2010, belajar Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada. Kedatangan saya ternyata pas ada erupsi Gunung Merapi, jadi saya ikut membantu. Di sana mulai banyak mengenal Indonesia.

Kenapa tertarik dengan Indonesia?

Itu (karena) ada keturunan dari Indonesia, tapi (saya) nggak tahu Indonesia. Terhitung saya sudah lima tahun bolak-balik (ke) Indonesia. Itu tadi awalnya punya impian, cita-cita travelling. Mau belajar bahasa asing, tapi nggak bakat, (lantas) aku ambil kajian Indonesia. Aku sangat tertarik dengan Indonesia. Aku merasa ini cocok. Setelah itu aku ambil S1 Jurusan Kajian Sastra Indonesia dan Geografi.

Bisa Anda jelaskan bagaimana awal mula terbentuknya Sekolah Gunung Merapi (SGM) ini?

Pada awalnya saya dan Mas Fajar, kami keduanya punya passion (di) bidang sosial. Kami ingin memulai sesuatu sendiri. Saya dulu kerja di Kamboja, di sebuah LSM khusus menangani pemuda yang ingin meningkatkan kapasitas mereka di bidang ekonomi, lalu dalam bidang kepariwisataan. Aku senang program ini. Di Kamboja mereka buat (kursus) Bahasa Inggris intensif, ternyata 3-6 bulan mereka bisa meningkatkan ekonominya. Ini menarik untuk dibawa ke Indonesia.

Dari sana, saya lalu berpikir mencari lokasi. Karena ada hubungan sama Gunung Merapi saat saya membantu warga ketika erupsi 2010, kita kontak beberapa kawan, ternyata pasca-erupsi warga butuh Bahasa Inggris untuk memulai ekonomi baru. Jadi kami paling awal bekerja sama dengan komunitas Jeep untuk tes program belajar Bahasa Inggris. Kita tahu pekerjaan warga di sini masih banyak di bidang peternakan dan pertanian. Sekarang sudah banyak berubah dalam beberapa tahun. Lalu kami mencoba mendirikan Sekolah Gunung Merapi sebagai bentuk dedikasi untuk masyarakat.

Kenapa memilih mendirikan sekolah di kaki Gunung Merapi?

Pada awal bencana banyak sekali bantuan, para donatur semangat sekali membantu. Akan tetapi beberapa bulan setelah erupsi, sudah jarang ada bantuan. (Di) Satu sisi warga masih krisis karena tidak banyak yang membantu. Setelah tidak ditetapkan lagi sebagai bencana darurat, kita ke sana, ternyata banyak hal yang bisa dikerjakan, termasuk membuat sekolah itu. Nah, Merapi adalah lokasi yang tepat buatku.

Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]
Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]

Lalu kenapa memilih aspek pendidikan, di antara banyak hal yang bisa dilakukan?

Pengalaman saya banyak di pendidikan. Bagi saya, pendidikan adalah salah satu hal (dasar) yang paling kuat untuk hidup, dan pendidikan adalah hal kuat untuk membuat orang (menjadi) independen dan kuat.

Anda mengatakan sudah berpengalaman, karena sudah mengetahui sistem pendidikan di banyak negara. Bisa dijelaskan apa perbedaan pendidikan Indonesia dengan negara lain?

Kalau menurut saya, tergantung negaranya. Di Indonesia dan Inggris jauh berbeda. Saya rasa ini mungkin (karena) kesadaran akan pendidikan masih kurang. Aku melihat penghargaan untuk guru di Indonesia terbatas. Berbeda kalau di Kamboja. Mereka menghargai guru, akan tetapi orang untuk menjadi guru nggak ada. Sedangkan di Inggris sendiri, orang menghargai pendidikan, namun mereka tidak mau bekerja di bidang pendidikan.

Dengan pengalaman Anda yang sudah melanglang buana, bagaimana sistem pembelajaran anak didik yang diterapkan di Sekolah Gunung Merapi?

Kita tahu situasi warga di sini. Mereka banyak tantangan, dimulai dari pemulihan pascabencana. Masa depannya mungkin belum bisa ditentukan, akan tetapi secara geografis, di lokasi ini ada bencana. Saya melihat perubahan ekonomi besar akan terjadi kalau masyarakat tidak siap dan belajar mandiri. Anak-anak harus siap untuk menyongsong masa depan. Selain itu, mereka juga harus bisa beradaptasi dengan cepat usai bencana itu, mengantisipasi jika terjadi lagi. Apa yang kami berikan melalui kegiatan di sini (adalah) untuk menyiapkan anak-anak agar masa depan mereka ceria. Aku berharap mereka membuat kreativitas, mampu berbahasa Inggris, bisa menggunakan komputer. Semua itu tujuannya supaya mereka membuat usahanya sendiri dengan membuat sesuatu yang menarik dan (memiliki) konsep baru.

Konsep yang kita usung tidak jauh, tidak melepaskan kearifan lokal dan letak geografis di Gunung Merapi. Sisi pariwisata, ekologi, mitigasi dan toleransi, serta hidup dengan makanan yang sehat, menjadi konsep dasar pendidikan ini.

Kenapa memilih mengajarkan tentang mitigasi?

Tidak memilih, tapi ini sebuah keharusan. Kita mengetahui daerah sini belum ada konsep sekolah khusus mitigasi. (Di) Satu sisi daerah ini dekat Merapi dan pernah mengalami bencana, bahkan siklusnya lima tahun sekali ada erupsi. Melihat hal tersebut, harus ada sebuah mitigasi. Semua warga harus mengerti Merapi, harus mengerti perubahan Merapi. Mereka harus siap dengan Merapi. So, program mitigasinya lama sekali kita buat --baru bisa jalan kemarin karena sudah dapat teman dan partner di BPPTKG.

Lalu soal toleransi, seperti apa dalam bayanganmu?

Ini (yang) bikin aku khawatir, di Indonesia sudah berulang kasus yang sama. Padahal kan ada Pancasila yang sangat bagus. Saya melihat di sekolah ada pelajaran Pancasila, namun intinya tidak pernah masuk. Menurut saya, Pancasila itu dasar-dasar toleransi, bagaimana kita diajarkan perbedaan antar-agama, suku, ras dan etnis.

Ketika orang atau siswa mengerti Pancasila, harusnya Indonesia bisa damai. Kita di sini dari usia paling kecil sudah diperkenalkan dengan perbedaan agama, suku, etnis; itu tidak boleh diskriminasi, harus terbuka antar-sesama. Saya pikir, kalau mengerti itu sejak kecil, akan terbawa sendirinya ketika sudah dewasa, bahkan seumur hidupnya. Ini prioritas besar saya sekarang. Dari perubahan iklim, hingga ketidakdamaian karena intoleransi. Harusnya semua orang bisa fokus ke situ.

Bagaimana dengan ekologi?

Aku berpikir, anak-anak ketika diajarkan ruang hidup atau lingkungan, itu akan sangat penting. Misalnya dengan mengajarkan anak menanam waktu kecil, itu akan sangat penting. Banyak di sini anak-anak yang keluarganya petani, tapi pengertian menanamnya terbatas. Jadi kami perdalam pengetahuan mereka. Kita ajarkan ekologi dan sainsnya. Besok ketika anak-anak ada kesempatan membuat eksperimen, misalnya membuat pupuk, itu akan menjadi pengetahuan mereka.

Jadi, anak diajarkan toleransi, mitigasi dan ekologi. Bagaimana respon mereka?

Bagus. Kalau perkenalannya benar, anak-anak cepat menerima. Itu kan (juga) konsep alam.

Di laman berikutnya, Yasmin Winnet bercerita soal aktivitas di Sekolah Gunung Merapi, tentang kurikulum, ancaman erupsi Merapi, hingga harapannya ke depan...

Kontributor : Abdus Somad
Selanjutnya chevron_right

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini