Yasmin Winnet : Pendidikan adalah Modal Kehidupan

Di mata Yasmin Winnet, si pendiri Sekolah Gunung Merapi, ada yang keliru dalam konsep pendidikan di Indonesia selama ini.

Suara.Com
Arsito Hidayatullah
Yasmin Winnet : Pendidikan adalah Modal Kehidupan
Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]

Bisa Anda ceritakan bagaimana anak-anak di sini menjalani aktivitas Sekolah Gunung Merapi?

Anak-anak di sini bermacam-macam. Ada yang ikut kelas Bahasa Inggris, ada juga yang senang datang untuk nongkrong karena di rumah nggak ada kegiatan. Dari sana kita berusaha membuat kegiatan yang produktif dan aman.

Aktivitas kita antara lain ada kegiatan Jumat Kreatif, kemudian Senin-Kamis belajar Bahasa Inggris. Walaupun demikian, anak-anak dibebaskan untuk memilih dan menerima apa yang kami sampaikan. Untuk hari Jumat, kita bikin jadwal bebas. Tujuan utamanya untuk mengembangkan kreativitas dan (rasa) percaya diri anak, dan semua ini terbuka untuk semua anak.

Tahun kemarin kegiatannya melukis dan menari. Semester ini kita mau tambah nyanyi. Konsepnya, biar anak-anak tumbuh jadi orang dewasa dan arif bijaksana, mereka perlu tahu hal di dunia yang penting buat mereka. Salah satunya, kita fokus ke polusi sampah, lingkungan hidup, toleransi, dan nutrisi (memasak) --memperkenalkan makanan yang sehat.

Berarti ada kurikulumnya?

Kurikulum ada. Kurikulum kami buat sendiri.

Bisa dijelaskan bagaimana bentuk kurikulum Sekolah Gunung Merapi?

Itu tadi. Ada konsep empat tema; ada mitigasi, ekologi, toleransi dan nutrisi. Selama satu semester, kurang lebih 4-5 bulan, ada kegiatan.

Kenapa konsepnya khusus pada pendidikan anak?

Sebenarnya bukan anak saja. Ini buat orang dewasa juga, buat semua umur. Hanya saja, kita banyak fokus pada anak, alasannya (karena) mereka banyak waktu luang di sore hari. Adapun untuk yang dewasa, waktu luangnya terbatas.

Apakah masyarakat antusias belajar di Sekolah Gunung Merapi?

Sangat antusias. Tapi rata-rata pendidikannya kan kurang. Walaupun demikian, kami tidak ada paksaan, itu kebebasan dirinya. Aku berulang kali coba jelaskan, belajar itu agak panjang. Kalau mau instan, itu nggak mungkin. Sekali langsung jadi, itu agak susah.

Peserta didik dewasa seperti pemandu wisata dan masyarakat di sini, dulu ada sekitar 60 orang. Di situ kita bahkan mengubah konsep pendidikan untuk dewasa hampir 10 kali. Alasannya untuk menyesuaikan waktu mereka. Mereka kan sibuk kerja, tenaganya habis (bekerja), ketemunya kadang malam. Pertama-tama kita ajarkan listening dan speaking (Bahasa Inggris). Aku memandang pendidikan itu seumur hidup. Tapi masyarakat sini masih bilang sekolah itu buat anak kecil. Kalau belajar lagi ada rasa malunya.

Kalau untuk peserta didik anak, jumlahnya berapa?

(Ada) 35 anak yang ingin (belajar) Bahasa Inggris. Kalau anak yang nongkrong dan (ikut) Jumat Kreatif ada 40-an.

Seperti apa tenaga pengajarnya? Apakah sistemnya seperti guru pada umumnya?

Volunteer-nya ada dua yang aktif, namun yang mendaftar ada 20. Konsepnya belajar dan mengajar. Guru atau volunteer itu tidak hanya mengajar, akan tetapi juga belajar bersama anak-anak. Jadi mereka tidak hanya memberi pengetahuan, namun juga menerima pengetahuan bersama anak-anak.

Bagaimana lulusan SGM sejauh ini, apakah sudah sesuai dengan harapan Anda?

Belum, (karena) baru 2,5 tahun. Hemat saya, di dunia pendidikan (periode ini) belum bisa mencapai apa-apa. Namun untuk adik-adik (ini), saya berpikir untuk 20 tahun ke depan.

Apa yang ingin dicapai dari sekolah ini?

Aku ingin menanam pengalaman berharga. Kalau sampai bisa menginspirasi dan bisa melakukan perubahan besar, aku sudah tenang. Minimal aku senang mereka bisa belajar Bahasa Inggris. Dari pengalaman yang mereka dapat di sini, buatku itu paling menarik.

Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]
Yasmin Winnet. [Suara.com/Abdus Somad]

Pemerintah banyak dianggap belum maksimal dalam menunjang akses pendidikan yang layak. Bagaimana Anda melihat pendidikan di Indonesia?

It's not very good, I'm sorry. Aku nggak mau menyakiti perasaan guru-guru, yang aku yakin mereka kerja keras. Aku mendengar guru-guru gajinya sedikit, namun semangatnya tinggi. Saya berpikir Indonesia tidak menghargai jasa guru.

Sepertinya yang mendesain sistem pendidikan Indonesia belum paham konsep dasar pendidikan. Saya sering menemui anak-anak bawa tugas ke sini. Aku tanya, 'Belajar apa tadi (di sekolah)?' Mereka nggak bisa jawab. Saat mengerjakan tugas, mereka juga nggak bisa jawab. Aku kasihan, adik-adik seharian di sekolah, tapi tidak dapat apa-apa. Setelah aku melihat langsung materinya, ternyata banyak yang tidak masuk akal, bahkan banyak yang salah. Apalagi pakai sistem menjawab pilihan ganda A, B, C, D. Menurut saya, itu kapan anak bisa mikir (dengan begitu)?

Apakah di Inggris misalnya, pendidikan anak tidak seperti itu?

Walaupun pendidikannya belum sempurna, tapi ada sisi baik. Konsep bahwa guru tahu semua, lalu harus mengajar, itu nggak ada lagi. Sekarang sudah menjadi "guru hanya membantu anak". Nah, anak sendiri yang belajar; posisi guru hanya mengarahkan. Di sana kami memandang guru sebagai fasilitatornya anak. Sebab, pandangan kami, anak bisa belajar (secara) alami.

Di sini (Sekolah Gunung Merapi) bayar?

Gratis.

Kenapa?

Aku terbiasa memandang pendidikan sebagai hak anak-anak; itu hak manusia. Hak anak (adalah) bisa mengakses pendidikan yang berkualitas tinggi. Paling mendasar adalah membuat kualitas tinggi, terutama di daerah yang belum bisa diakses pendidik. Maka (ini) aku gratiskan.

Tapi mendirikan sekolah tentu butuh anggaran. Sejauh ini dari mana saja anggaran yang didapat untuk menunjang sekolah Anda?

(Secara) Mandiri. Awalnya kita dapat banyak dukungan dari warga untuk kegiatan di sini, hingga nggak ada uang operasional. Soalnya ini bangunan desa, serta listrik numpang tetangga. Kita dua kali ajukan dana crowdfunding melalui media online. Hasil dari galangan dana online, pertama untuk renovasi perpustakaan, kedua untuk renovasi atap dan beli Jeep. Pembelian Jeep itu untuk pemasukan operasional sekolah, itu untuk kebutuhan kita.

Ancaman erupsi Gunung Merapi masih terus membayangi. Lalu bagaimana masa depan Sekolah Gunung Merapi ini menurut Anda?

Kalau sisi erupsinya, sebenarnya (disebut) ancaman selalu ada itu tidaklah tepat. Alasannya karena Merapi sifatnya ada masa aktif dan tidaknya. Kalau status Merapi normal, tidak ada ancaman, walaupun (tetap) ada risikonya. Pengertian bahaya ancaman seperti itu saya dapat dari BPPTKG. Kalau sudah sampai masuk masa aktif yang diketahui dari status Merapi, lalu ada risiko besar, itu tidak lagi aman.

Nah, di Indonesia ada banyak bencana alam. (Maka) Menurutku, mitigasi harus diterapkan ke anak sejak dini. Aku berharap itu nggak (berjalan) responsif saja, mereka perlu pahami ancamannya dengan penuh. Kita memastikan anak-anak memahami mitigasi dengan penuh. Ini kita akan kuatkan di semester ini.

Kami akan ajarkan anak-anak untuk mengetahui lebih dalam tentang Merapi. Tidak hanya tahu ada kenaikan status, tapi juga tahu bagaimana melihat Merapi lebih dalam. Untuk itu, kami ajak mereka nanti ke BPPTKG, untuk mengetahui bagaimana orang melihat Merapi dari kajian pengetahuan dan ekologi. Orang yang dekat Merapi harusnya lebih mengerti akan Merapi.

Apa yang Anda ingin sampaikan kepada pemerintah Indonesia dan Yogyakarta terkait dengan pendidikan?

Indonesia itu negara yang sangat luas. Setiap daerahnya berbeda, tentu saja tantangannya berbeda lagi. Jadi harusnya pendidikan tantangannya menyiapkan sesuai yang ada di daerah mereka. Menurut saya, anak-anak harus diberikan lebih banyak kebebasan, supaya anak-anak itu bisa beradaptasi sesuai dengan kebutuhannya.

Susah membuat keputusan (untuk) satu negara. Itu amat susah. Maka dari itu, aku lebih senang bekerja dengan sistem grass-root. Sebab itu bisa menjelaskan masalah dan sifatnya masyarakat. Itu bisa membuat dampak positif. Buatku, yang paling penting kami bisa bantu di sini tentang keilmuan. Kalau mereka tahu, harus cari sumbernya. Kami kasih kata kunci, supaya peserta didik bisa belajar otodidak.

Anak-anak pada dasarnya sangat semangat belajar. Kalau mereka sampai hilang semangat belajar, berarti ada masalah pada konsep belajarnya, bukan pada anaknya.

Kontributor : Abdus Somad

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini