Jum'at, 14 Desember 2018

Saya Menangis di Dalam Laut Melihat Kondisi Korban Lion Air

"itu, orang yang memakai tas ransel berwarna ungu. Dia penyelam, tadi dia cerita sempat menangis saat menyelam"

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana | Yosea Arga Pramudita
Penyelam Agus Sulaiman. (Suara.com/Arga)
Penyelam Agus Sulaiman. (Suara.com/Arga)

Suara.com - Kapal KN SAR Sadewa milik Badan SAR Nasional baru saja merapat di dermaga JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Sabtu (3/11/2018). Kapal tersebut tiba di dermaga sekira pukul 18.05 WIB usai melakukan proses evakuasi pencarian pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Karawang pada Senin (29/10/2018).

Sejak pagi, Suara.com telah berada di dermaga JICT Tanjung Priok untuk memantau perkembangan evakuasi pada hari keenam tersebut. Saat seorang campers sebuah televisi swasta turun dari kapal, seketika langsung memberikan situasi yang terjadi selama proses evakuasi tersebut berlangsung.

Ia berkata seraya menunjuk seorang lelaki, "itu, orang yang memakai tas ransel berwarna ungu. Dia penyelam, tadi dia cerita sempat menangis saat menyelam".

Lelaki itu berjalan menuju tenda milik Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) yang berada di dermaga JICT Tanjung Priok.

Sejumlah Tim SAR gabungan melakukan pencarian pesawat Lion Air (PK-LQP) JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang,Jawa Barat, Minggu (4/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)
Sejumlah Tim SAR gabungan melakukan pencarian pesawat Lion Air (PK-LQP) JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang,Jawa Barat, Minggu (4/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)

Adalah Agus Sulaiman (43), pria yang berasal dari Palembang. Dirinya telah terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi pesawat Lion Air dan korban penumpang kejadian naas tersebut sejak hari Selasa (31/10/2018). Bersama tim SAR gabungan, ia ikut menyelami perairan Karawang, Jawa Barat untuk menemukan serpihan pesawat, para korban, bahkan harapan.

Dalamnya perairan laut utara Pulau Jawa, tak membuat dirinya surut. Baginya, mencari para korban merupakan pengabdian.

Saat meyelami laut, air mata Agus keluar. Matanya basah meski mengenakan kaca mata menyelam. Hatinya berlinang manakala menemukan potongan tubuh manusia di dasar laut. Sebagai manusia, perasaan Agus bercampur aduk. Tak ada batas-batas yang mengekang tubuh Agus untuk leluasa mencari puing-puing pesawat dan korban penumpang pesat Lion Air JT 610.

Pekerjaannya sebagai kontraktor di Palembang ia tinggalkan untuk sementara waktu. Demi ditemukannya jenazah para penumpang pesawat, demi ditemukannya bongkahan badan pesawat, dan demi ditemukannya rasa kemanusiaan yang tak pernah mengenal batas. Mungkin, Agus bukanlah Dante, yang hanya menyerahkan cintanya pada Beatrice dalam La Divina Commedia.

Lokasi Lion Air jatuh. (Suara.com/Walda)
Lokasi Lion Air jatuh. (Suara.com/Walda)

Agus juga bukan Florentino Arizza, yang merasa sakit kolera saat jatuh cinta pada Fermina Dazza dalam Love In The Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez. Cinta Agus, tak megenal batas. Cintanya kepada sesama manusia, lebih dalam dari pada perairan Karawang, Jawa Barat.

Berikut wawancara Suara.com dengan Agus mengenai proses evakuasi pencarian pesawat dan korban kecelakaan naas tersebut.

Bisa diceritakan, kenapa anda bisa sampai ikut proses pencarian dan evakuasi Lion Air JT 610?

Saya terpanggil untuk melalukan proses evakuasi ini. Begitu saya dengan berita ini di televisi, saya nongkrong di depan televisi dan tidak bergerak. Saya memantau. Kebetulan domisili saya jauh, di Palembang.

Begitu sampai ke JICT Tanjung Priok, saya langsung patuh pada aturan induk yang berwenang melalui Basarnas.

Petugas kapal Baruna Jaya 1 memeriksa mesin turbin pesawat Lion Air JT 610  yang ditemukan oleh tim penyelam TNI AL Dislambair di daerah perairan Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)
Petugas kapal Baruna Jaya 1 memeriksa mesin turbin pesawat Lion Air JT 610 yang ditemukan oleh tim penyelam TNI AL Dislambair di daerah perairan Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)

Seperti apa proses evakuasi dari hari pertama?

Kita tetap sesuai komando dari Basarnas, kita tidak serta merta mentang-mentang bisa menyelam kita langsung nyemplung ke dasar laut. Tidak, kita juga punya SOP.

Seperti apa pengalaman selama menyelam bantu proses evakuasi?

Yang pasti secara pribadi maupun organisasi, turut berduka cita. Hal ini bukan yang kita semua inginkan. Tapi ini adalah satu kehendak di luar hal-hal dari diri kita. Ini adalah kehendak Tuhan. Kami turut berduka cita baik untuk korban pesawat JT 610 maupun sahabat kami, yang kemarin baru saja meninggal dunia.

Ini tidak bisa kita sebut sebagai pengalaman. Ini adalah bentuk pengabdian. Kami tidak mau menyebut ini adalah pengalaman. Yang namanya pengabdian, itu naluri yang berbicara. Jadi kita sedapat mungkin dalam melakukan penyelamatan, semua korban kita anggap sebagai saudara.

Sedapat mungkin, kita mengangkut saudara kita yang membutuhkan kondisi yang dilayakkan sesuai dengan agama dan kepercayaan para korban masing-masing. Kita tak memandang apa agama mereka, kita tidak bisa memilih dalam proses pencarian.

Semua korban sedapat mungkin kita cari. Bagi kami, semua korban sama seperti kita. Sama-sama manusia.

Sebanyak 31 kantong jenazah berisi potongan tubuh korban pesawat jatuh Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, tiba di Jakarta International Container Terminal (JICT) II Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (4/11/2018). [Suara.com/Chyntia Sami Bhayangkara]
Sebanyak 31 kantong jenazah berisi potongan tubuh korban pesawat jatuh Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, tiba di Jakarta International Container Terminal (JICT) II Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (4/11/2018). [Suara.com/Chyntia Sami Bhayangkara]

Perasaan anda saat proses evakuasi di dasar laut...

Mungkin, kalau orang lain bisa menangis saat mendengar kabar tersebut. Saya menangis di dalam air saat menyelam.

Sumpah.

Begitu sampai di dasar laut, melihat kondisi di sana, aduh. Saya tidak bisa menggambarkan rasa itu. Saya melihat banyak sekali material pesawat. Kami tidak sporadis.

Kita tetap sesuai arahan. Apapun yang ada di depan pandangan, kita ambil. Kalau saya tidak bisa memainkan emosi, rasanya semua yang ada dihadapan saya, ingin saya rauk. Tapi kita memiliki keterbatasan. Waktu salah satunya.

Saya selalu memantau deep computer. Itu alat yang mengatur keselamatan kita. Kalau saya selalu membuat pengamanan untuk diri saya berlapis.

Ada yang manual, ada yang automatis, dan saya masih bawa cadangan dua alat lagi.

Kondisi di dasar laut di perairan Karawang seperti apa?

Kondisi pesawat Lion Air saja berhamburan, apalagi tubuh manusia. Bisa dibayangkan sendiri seperti apa kondisinya.

Jadi kalau kita tidak bisa menguasai emosi diri sendiri, apapun ingin kita raih. Tapi jangan lupa, kita memiliki batas waktu saat melakukan penyelaman.

Petugas cargo membawa peti Jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Chandra Kirana saat tiba diterminal cargo Bandara Sultan Mahmud Baddarudin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (3/11). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]
Petugas cargo membawa peti Jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Chandra Kirana saat tiba diterminal cargo Bandara Sultan Mahmud Baddarudin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (3/11). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]

Ketika melihat atau menemukan potongan tubuh manusia prosedurnya seperti apa? Boleh langsung mengambil?

Ya langsung kita ambil. Tapi di atas sudah ada yang menunggu. Semua yang ada dihadapan kita, kita ambil. Semua yang ada dihadapan saya, baik itu serpihan pesawat atau potongan organ tubuh para penumpang kita ambil.

Kita juga punya perhitungan. Kan semua berserakan, tidak berkumpul di satu tempat. Ada yang diantara puing-puing pesawat. Semua bagian penting. Puing-puing pesawat penting, tubuh manusia juga penting.

Kita tidak bisa mengabaikan hal itu. Puing tetap kita ambil mungkin untuk menjadi bahan evaluasi oleh pihak terkait. Pokoknya tugas kita mengangkat apa yang ada di dasar laut. Untuk bagian tubuh manusia, kita langsung angkat dan pisahkan.

Rasanya saat mengambil jenazah para korban itu seperti apa?

Saya tidak memikirkan persaan itu. Saya langsung angkat, yang penting diri kita itu ikhas. Ngapain kita memikirkan sesuatu saat mengangkat jenazah atau potongan organ manusia, toh waktu kita terbatas.

Tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu, mereka saudara kita, mereka manusia yang punya kewajiban untuk kita layakkan.

Tim DVI ungkap identitas korban Lion Air. (Suara.com/Yasir)
Tim DVI ungkap identitas korban Lion Air. (Suara.com/Yasir)

Ada perbedaan dari hari ke hari?

Sekarang ini, kita masih perlu waktu, karena di bawah laut itu luar biasa berhamburannya. Anda pasti sudah bisa membayangkan lah. Jumlah korban saja berapa? 189 korban. Sekarang saya beri contoh, jumlah penyelam yang menyelam itu kalau di taruh di pesawat itu cukup tidak?

Masih banyak sekali space yang kosong. Kalau kita duduk dalam pesawat, jumlah kita sekitar 30 orang. 30 orang di dalam pesawat itu berapa kursi? Kita anggap satu penyelam angkat satu kursi. Itu baru kursi.

Belum termasuk dinding pesawat, lampunya, material yang lainnya yang semuanya tidak dalam kondisi utuh. Potongan semua. Anda bisa bayangkan lah betapa berhamburannya.

Sejumlah Tim AL Dislambair melakukan penyelaman untuk pencarian pesawat Lion Air (PK-LQP) JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang,Jawa Barat, Minggu (4/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)
Sejumlah Tim AL Dislambair melakukan penyelaman untuk pencarian pesawat Lion Air (PK-LQP) JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang,Jawa Barat, Minggu (4/11). (Suara.com/Fakhri Hermansyah)

Itu dalam kedalaman berapa meter?

Kalau saya di dalam kedalaman 22 sampai 23 meter. Rancenya 30 sampai 35 meter. Sebenarnya tergantung pasang surutnya air juga. Itu mempengaruhi.

Saya yakin, teman-teman penyelam yang lain pun mengalami hal yang sama. Saya yakin penyelam lainnya baik dari TNI, Polri, Basarnas dan lainnya juga menyelam dan mencari tanpa pandang bulu. Semua menyelam demi keikhasan.

Kami selalu selalu berdoa dan breafing sebelum menyelam. Sebelum menyelam, kita diingatkan bahwa keselamatan merupakan dasar. Itu selalu kita lakukan.

Saya tidak berharap perbuatan yang saya lakukan tercatat dengan tinta emas. Cukup hanya Tuhan dan saya yang megetahui. Jadi keikhasan kita itu, Insya Allah menjadi pahala bagi diri kita.

Insya Allah juga menjadi manfaat bagi keluarga korban dan juga untuk keselamatan penerbangan pesawat yang berikutnya. Jadi luas sekali, jadi saya bukan untuk cari prestasi, ini adalah panggilan jiwa.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini