Rabu, 12 Desember 2018

Prediksi Ilmiah Jakarta Akan Tenggelam, Tapi Kapan?

Antara Tahun 2025, 2035, atau 2050.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana | Chyntia Sami Bhayangkara
Ilmuwan Fisika dan Perubahan Iklim yang menjelajah Antartika, Wayan Suparta. (dok Pribadi)
Ilmuwan Fisika dan Perubahan Iklim yang menjelajah Antartika, Wayan Suparta. (dok Pribadi)

Suara.com - Ilmuwan Perubahan Iklim, Wayan Suparta menanggapi prediksi Jakarta akan tenggelam pada tahun 2025. Sebelumnya Calon Presiden Prabowo Subianto menyatakan prediksi itu.

Menurut Wayan, dengan kondisi Jakarta yang terus mengalami penurunan tanah maka dapat dipastikan Jakarta akan tenggelam pada 2025. Jika kecepatan penurunan permukaan tanah di Jakarta mencapai 20 hingga 25 sentimeter per tahun ditambah dengan faktor eksternal seperti perubahan iklim, maka dapat dipastikan Jakarta akan tenggelam. Pasalnya, permukaan tanah di Jakarta memang rentan mengelami penurunan, terutama di daerah pesisir pantai. Bakal tenggelamnya Jakarta bukanlah gimik politik.

"Jadi dengan adanya perubahan iklim dan penggalian tanah secara liar, adalah betul kemungkinan 2025 Jakarta akan tenggelam digenangi air," kata Wayan kepada Suara.com, Senin (26/11/2018).

Meski demikian, Wayan menegaskan tidak seluruh wilayah Jakarta yang akan tenggelam pada 2025. Wayan memprediksi hanya wilayah Jakarta Utara saja yang akan digenangi air. Pasalnya, wilayah ini berada di tepi pantai dan sangat memungkinkan terjadi intrusi air laut. Terlebih perubahan iklim yang terjadi cukup ekstrem menyebabkan permukaan air laut meningkat sementara permukaan tanah di wilayah utara terus mengalami penurunan.

Ilmuwan lulusan doktoral bidang elektronika di Universiti Kebangsaan Malaysia yang telah berhasil meraih gelar profesor ini menjelaskan, dari hasil penelitian oleh pakar geologi Indonesia diketahui jenis tanah di Jakarta merupakan tanah aluvial atau tanah endapan. Jenis tanah ini memiliki karakteristik yang sulit untuk menyerap air.

Belum lagi, saat ini warga Jakarta gencar melakukan penggalian tanah guna menyedot air tanah dalam. Sehingga, cadangan air di dalam tanah akan habis dan menyebabkan permukaan tanah berpotensi amblas.

Lalu apa saja yang menyebabkan Jakarta akan tenggelam? Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah itu semua?

Berikut wawancara lengkap Suara.com dengan Profesor Wayan:

Dari sisi ilmiah, apakah benar prediksi Jakarta akan tenggelam pada tahun 2025?

Kalau menanyakan tahun 2025 tenggelam, iya.

Ada juga yang menanyakan apakah tahun 2025, 2035, dan 2050? Jadi kalau prediksi 2025 artinya 27 tahun lagi kan? Menurut saya kalau hanya dilihat dari aspek keadaan permukaan tanah dan perubahan iklim, Jakarta belum tenggelam seluruhnya.

Kecuali mungkin khusus yang di Jakarta Utara itu di dekat Tanjung Priok dan juga sekiranya ada gangguan luar yang dashyat. Contohnya tsunami atau gempa itu memungkinkan pada 2025 akan ditenggelami permukaannya, bukan seluruhnya. Tapi hanya di bagian utara.

Itu kalau dilihat dari data sekiranya ketinggian permukaan laut dari permukaan tanah 1 sampai 8 meter. Kemudian kecepatan menyusutnya permukaan tanah itu setiap tahun tergantung, apakah 10 cm atau 15 cm atau 20 cm? Itu kan setiap daerah tidak sama.

Kalau sekiranya kecepatan turunnya permukaan tanah setiap 10 cm per tahun, itu tahun 2025 belum tenggelam.

Maksudnya permukaan tanah di Jakarta itu belum digenangi air laut. Bukan tenggelam seperti Monas hanya kelihatan pucuknya saja..

Tetapi kalau sekiranya kecepatan menyusutnya tanah 20 cm sampai 25 cm per tahun itu mungkin sekali. Ditambah lagi ada faktor luar, seperti perubahan iklim. Itu sangat membantu sekali apalagi sistem permukaan tanah atau topografi tanah Jakarta setiap tahunnya memang akan mengalami penurunan. Otomatis itu karena sifat tanahnya yang aluvial atau tanah endapan.

Itu salah satu yang paling besar pengaruhnya adalah faktor manusia. Menggali sumur untuk mengambil air.

Artinya, Jakarta ini pasokan air bersihnya masih kurang. Ini yang mengakibatkan beberapa masyarakat kecil atau mungkin yang di atas atau yang menengah mengambil air dengan menggali sumur. Ini kan tidak boleh seharusnya. Karena keadaan tanah itu kalau mengeduk tanah sampai kedalaman 10 meter sampai 15 meter, itu berarti kan memberi peluang air hujannya masuk ke sana.

Karena kemampuan daya rekat tanah rendah itulah yang menyebabkan tanahnya ambles ke bawah. Jadi semakin banyak penggalian sumur maka semakin cepat ambles terjadinya longsor sangat tinggi. Itu faktor eksternal namanya.

Perubahan iklim juga tengah menghantui, apakah itu juga berpengaruh?

Dengan adanya perubahan iklim dan penggalian tanah namun tak disertai usaha apapun oleh pemerintah pusat atau Pemprov DKI, boleh jadi 2025 Jakarta Utara akan ditenggelami air. Betul itu, kalau tidak ada usaha sama sekali dari pemerintah. Kemudian penggalian sumur terus menerus dilakukan tanpa adanya pembatasan melalui UU, memang itu mungkin.

Apakah Anda mempunyai data, berapa centimeter penurunan permukaan tanah Jakarta tiap tahun?

Kalau data ini adanya di Dinas Pengairan dan Irigasi. Kalau ini karena tiap kabupaten mempunyai beda data penyusutan permukaan tanahnya. Saya rasa mereka punya data yang valid di semua daerah. Saya tidak bisa mengetahui itu dengan detil.

Kemudian yang kedua, ada data satelit dari udara yang dimiliki oleh LAPAN di Pekayon. Sejauh ini saya belum pernah mendengar pernyataan dari pihak LAPAN bagaimana pengikisan atau penurunan permukaan daratan di Jakarta yang diteliti pihak LAPAN.

Mereka punya data satelit dan data itu memang tidak gratis, karena itu mereka mengeluarkan data berdasarkan permintaan. Seperti kajian yang dibuat oleh ITB contohnya, mereka sudah pernah meneliti ini walaupun sebagian hasil penelitian ini ada yang menyanggah.

Apakah penurunan tanah di Jakarta juga berpotensi mengakibatkan sinkhole atau lubang raksasa?

Mungkin saja. Kejadian seperti ini bukan Jakarta saja yang akan tenggelam. Ada 8 kota, kebanyakan di Asia Tenggara yang akan tenggelam. Posisi pertama diduduki Jakarta sebagai kota yang memiliki potensi tenggelam sangat besar.

Posisi pertama Jakarta, Indonesia; Bangkok, Thailand; Lagos, Nigeria; Manila, Filipina; Dhaka, Bangladesh; Shanghai, Cina; London, Inggris dan Houston, Amerika Serikat.

Delapan kota ini adalah kota yang paling rentan tenggelam. Tapi Jakarta yang menempati peringkat pertama.

Artinya potensi Jakarta tenggelam itu sangat besar ya?

Secara alamiah apakah tahun 2025 atau 2050? Tapi menurut saya Jakarta akan tenggelam secara keseluruhan pada 2040. Itu sekiranya pemerintah tidak ada usaha seperti membangun tanggul atau Giant Sea Wall, kemudian tidak ada upaya menghentikan atau pembatasan penggalian sumur. Ditambah perubahan iklim. Perubahan iklim yang normal saja akan menaikkan permukaan air laut, apalagi kalau perubahan cuaca ekstrem.

Kita tunggu sebentar lagi Desember dan Januari hujan akan turun. Kalau sudah Desember-Januari hujan, maka aliran air yang datang ke Jakarta tak mampu menyerap air hujan. Sehingga menyebabkan banjir. Ini antara lain permukaan tanah yang sudah keras dan beraspal air hujan tidak mampu diserap oleh tanah.

Ini harus berhati-hati. Ada 13 sungai yang ada di Jakarta sudah tidak mampu lagi menampung aliran air hujan maupun tampungan air dari Bogor dan sekitarnya.

Jakarta kan rendah. Seperti Bandung, di sana bentuknya cekung, kota yang terletak di cekungan, Jakarta kan dekat permukaan laut jadi secara alamiah memang tanpa diapa-apakan pun Jakarta akan tenggelam, tapi tentu dalam waktu lama.

Anda harus ingat, dulu Selat Sunda adalah daratan, namanya papan Sunda. Dari Jawa ke Sumatera itu tadinya darat. Sekarang jadi perairan kan?

Kapan itu?

Itu sekitar 18,000 tahun yang lalu. Di mana di atas permukaan laut terdapat daratan dan kini akibat kenaikan permukaan air laut ya menjadi tenggelam.

Selat Sunda berubah jadi perairan efek dari perubahan iklim?

Itu kalau waktu dulu perubahan iklim tidak seekstrem seperti sekarang ya. Itu karena pergerakan lempeng bumi pada jaman glasial terakhir.

Indonesia juga berdiri diatas pertemuan beberapa lempeng bumi, artinya ini menjadi salah satu penyebab percepatan air laut naik ke daratan?

Iya betul. Itu bukan hanya Jakarta ya tapi keseluruhan daerah-daerah yang dilalui oleh ring of fire dan lempengan bumi, contohnya di Palu, Aceh, Pulau Jawa juga hampir seluruhnya dilalui. Ini bukan berarti juga daerah lain aman 100 persen, mereka bisa saja dapat bencana kiriman.

Jadi kemungkinan itu akan menggeser atau pergerakan lempeng bumi, jadi yang sebelumnya lautan bisa jadi darat atau yang sebelumnya darat bisa lepas menjadi lautan. Dulu Kota Palu itu lautan, sekarang dia menjadi daratan akibat aktivitas gempa dan pergeseran lempeng bumi. Begitu sejarahnya kalau ditelusuri lebih jauh.

Menurut Anda, sejauh mana kesiapan Jakarta memperlambat proses tenggelamnya Jakarta?

Kalau secara manajemen organisasi pemerintahan harusnya memang pemerintah berusaha mencari dana untuk menbangun tanggul-tanggul. Karena menurut saya ada dua jenis tanggul yang harus dibangun di tepi laut. Pertama tanggul penghalang ombak dan yang kedua tanggul pemecah ombak. Itu arahnya searah dengan arah datangnya ombak, jadi satu melintang dan satu sejajar.

Jadi ombak yang datang ke daratan itu dipecah langsung dengan memasang tembok yang sejajar dengan arah datangnya ombak, lalu tanggul yang melintang meredam sisa ombak yang akan menghantam daratan.

Seberapa efektif pembangunan Giant Sea Wall untuk mencegah Jakarta tenggelam?

Cukup efektif, pertama untuk mengurangi longsoran dari darat ke laut karena dia dibeton. Kemudian yang kedua dari ombak yang datang ke darat atau abrasi tidak akan mengabrasi pantai tapi akan mengenai tembok dulu. Namun, catatannya tembok yang dibangun minimal 10 meter tingginya bukan 2-3 meter, kalau segitu ya sama saja bohong.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan sempat menolak pembangunan Giant Sea Wall karena khawatir akan menjadi kobokan raksasa. Apakah benar seperti itu?

Kalau untuk pendapat sekarang, itu betul. Tapi saya kurang setuju dengan pendapat itu. Tidak semua kawasan Jakarta menjadi kobokan hanya di bagian-bagian tertentu. Karena kalau sungai dan lautnya kotor memang betul dia akan menjadi sarang sampah dan jadi kobokan. Sekarang tergantung, yang penting kemampuan mengatur lalu lintas perairan di sana. Apakah IPAL-nya kemudian sampahnya itu diatur, harus dikontrol dengan betul. Kalau itu tidak dikontrol juga ya kemungkinan kobokan bisa terjadi. Namun, usaha untuk membangun Giant Sea Wall di Jakarta khususya di Jakarta Utara akan membantu memperpanjang umur Jakarta dari tenggelam.

Kalau melihat eksisting, Sungai Ciliwung bahkan Sungai Sentiong itu hitam dan kotor, artinya kalau jadi dibangun Giant Sea Wall ramalan Anies akan menjadi kobokan raksasa bakal terwujud?

Mungkin saja. Karena pertama, kalau saya membaca dari sifat-sifat sungai di Jakarta itu seperti itu, disamping memang faktor eksternal seperti sikap manusia yang tidak mau bekerja sama menjaga lingkungan.

Nah itu memang berpotensi. Jadi harus ada usaha bersama antara pemerintah dengan masyarakat untuk menjaga sungai.

Saya lama tinggal di Malaysia, jadi kalau di sana masyarakat yang ketahuan membuang sampah atau merusak sungai itu dendanya besar sekali. Dan itu kontrol dari aparat tinggi sekali, jadi begitu ketahuan langsung ada tindakan, tidak ada pembiaran.

Kalau di Indonesia kan masih ada pembiaran, negosiasi, alot-alot gitu kan. Itu nggak boleh, kalau memang hal itu sangat prinsipil ya nggak boleh. Kalau didenda ya kasih denda, salah ya salah.

Siapapun yang melakukannya. Itu yang harus dihukum berdasarkan undang-undang yang ada, penerapan hukumnya itu harus tegas.

Kemudian saya juga melihat tergantung dari kemauan politik dari pemerintah, dalam hal ini pemda dan DPRD. Apakah mereka punya semangat untuk menjaga Jakarta? Masalahnya mereka itu kan memiliki banyak kepentingan. Jadi masalah Jakarta banjir atau tenggelam mesti dikampanyekan secara aktif oleh orang luar juga, NGO seperti WALHI contohnya ya harus mencoba mendesak DPRD atau pihak yang terkait.

Karena kalau hanya keinginan gubernur tapi tidak didukung oleh DPRD kan nggak bisa juga. Jadi harus keduanya didesak katakanlah mengeluarkan UU pembatasan penggalian sumur untuk mengurangi rembesnya air.

Lalu solusinya bagaimana kalau rakyat kecil tidak boleh mendapatkan air bersih, apakah pemerintah menyediakan air bersih setiap hari, kasih tangki air bersih atau bagaimana? Pemerintah harus punya solusi, itu harus diperhatikan. Jadi banyak sekali ya ini kalau mau dilihat ya satu-satu. Yang paling penting juga adalah pembinaan kesadaran masyarakat akan lingkungan. Sekiranya daerah itu memang rawan banjir dan berisiko tinggi tentu masyakarat di sana siap untuk direlokasi.

Beberapa kali Jakarta juga 'tenggelam' karena banjir, seperti 1996 banjir setinggi 7 meter hingga 2002 banjir setinggi 5 meter yang merendam 25 persen kawasan Jakarta. Ini dampak dari perubahan iklim atau ketidaksiapan Jakarta menampung air hujan?

Saya rasa yang terakhir itu ya, karakteristik dari permukaan air tanah di Jakarta yang tak mampu menyerap air jatuh dari langit. Apalagi sudah banyak bangunan beton di sana, kemudian air tidak bisa diserap oleh permukaan tanah. Selain itu, Jakarta juga dibebani oleh bangunan tinggi dan kepadatan penduduk yang secara gravitasi menarik permukaan tanah turun ke bawah.

Jadi salah satu cara untuk memperpanjang umur Jakarta supaya tidak segera tenggelam ya memang harus ada yang namanya penampungan air besar seperti waduk raksasa. Jadi kalau misalnya ada air dari Bogor atau mana kan bisa dialirkan ke waduk raksasa itu. Itu salah satu cara solusi untuk menampung supaya luapan air tidak menyebabkan banjir.

Untuk menyelamatkan Jakarta memang butuh pengorbanan, terutama pencarian dana yang besar. Itu bukan pekerjaan mudah.

Beberapa waduk yang ada sekarang di Jakarta belum mencukupi untuk menampung air?

Nggak cukup, apalagi kalau musim hujan kan kita tidak bisa prediksi. Volume air hujan itu dari musim ke musim selalu meningkat, jadi belum lagi hantaman dari kenaikan permukaan air laut karena akibat perubahan iklim.

Butuh berapa banyak waduk untuk menampung air di Jakarta?

Kalau menurut saya sih bagusnya setiap kecamatan ada waduk raksasa, bukan hanya tingkat kabupaten satu waduk tapi setiap kecamatan ada waduk. Setiap daerah pasti menerima volume air yang berbeda. Jadi, sekali lagi ini berkait dengan anggaran.

Saat ini Gubernur Anies gencar melakukan naturalisasi, apakah ini efektif nggak untuk menghambat proses tenggelamnya Jakarta?

Itu hanya solusi sementara. Itu salah satu usaha juga yang tergolong murah, tapi hanya sementara saja tidak bisa bertahan lama misalnya hingga 25 tahun ke depan.

Penanggulangan jangka panjangnya apa?

Pertama membangun waduk raksasa di setiap kecamatan, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan wilayah dan anggaran. Misalnya kecamatan yang tidak pernah bermasalah dengan banjir tentu waduk raksasa belum prioritas. Kedua, untuk mencegah terjangan atau rembesan air laut harus dibangun Giant Sea Wall supaya ombak yang ada tidak menghantam daratan. Ketiga, perbaiki kesadaran/edukasi masyarakat akan pentingnya dan dampak dari lingkungan.

Biografi singkat Wayan Suparta

Wayan Suparta lahir di Klungkung, Bali. Sejak 2012 hingga 2017 dia menjadi Associate Professor di Space Science Centre (ANGKASA) Universiti Kebangsaan Malaysia dan sempat sebagai profesor penuh de facto di sana sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Wayan merupakan tokoh sentral dalam pengembangan konferensi IconSpace dan Konferensi Internasional Teknologi Sains dan Teknologi 2016 tentang Perubahan Iklim (STACLIM) sepanjang karirnya di UKM.Dia juga pernah sebagai anggota penasehat Task Force Cuaca Ekstrem Kerajaan Malaysia. Kini dia menjadi dosen paruh waktu di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Bina Nusantara Jakarta, di mana sebelumnya juga pernah mengajar di Universitas Teknologi Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Wayan merupakan ilmuan di bidang aplikasi penginderaan satelit jarak jauh untuk studi cuaca antariksa dan iklim, bencana alam, fisika terestrial, dan pemodelan gangguan satelit. Dia adalah ilmuwan Indonesia pertama yang melakukan penelitian tentang Meteorologi Ruang Angkasa di Benua Kutub (Antartika dan Artik).Wayan sehingga kini masih menekuni bidang akademik dan juga sebagai pengamat perubahan iklim dan lingkungan global berbasis pembelajaran mesin (machine learning).

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini