Yuswohady: Era Useless Economy, Manusia Tak Berguna di Industri 4.0

Menurut Yuswohady, jika tak diantisipasi, kemajuan teknologi digital bisa berdampak buruk. Lalu apa hubungannya dengan milenial?

Suara.Com
Arsito Hidayatullah | Achmad Fauzi
Yuswohady: Era Useless Economy, Manusia Tak Berguna di Industri 4.0
Pengamat Marketing/branding sekaligus penulis buku, Yuswohady, berpose saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/4/2019). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Suara.com - Saat ini, sebagian besar peradaban dunia telah disentuh oleh perkembangan teknologi digital. Kini hampir semua kegiatan atau aktivitas kita sudah bisa dilakukan dengan teknologi digital.

Di satu sisi, kehadiran teknologi digital dapat memudahkan seseorang berkegiatan. Misalnya saja, saat ini mengobrol tak lagi perlu bertatap muka. Lewat aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Anda sudah bisa mengobrol, meskipun orang yang terlibat percakapan berbeda lokasi.

Namun meski banyak memudahkan, serbuan teknologi digital dinilai dapat pula berdampak negatif pada kegiatan keseharian kita. Menurut pakar pemasaran sekaligus penulis buku Yuswohady, banyak kegiatan yang bakal "dibunuh" oleh gangguan digital (digital disruption).

Contoh mudahnya adalah pekerjaan. Dengan teknologi digital, lingkungan pekerjaan akan berubah total, di mana pabrik-pabrik akan beralih dari menggunakan tenaga manusia menjadi menggunakan mesin.

Hal ini bakal mengancam pekerjaan yang sifatnya dulu membutuhkan manusia, karena kini bisa digantikan dengan mesin. Apalagi ketika kini Indonesia bakal menghadapi revolusi industri 4.0, di mana semua industri nantinya bakal menggunakan teknologi digital.

Dengan demikian artinya, jika di satu sisi teknologi digital bisa membuat mudah, tapi di sisi lain ternyata juga bisa mengancam kegiatan sehari-hari manusia. Lantas, apa-apa saja yang bakal tergeser oleh teknologi digital? Simak wawancara lengkap Suara.com dengan pakar marketing sekaligus penulis buku, Yuswohady.

Bagaimana teknologi digital mengancam pekerjaan?

Ini akan masuk yang namanya useless economy. Useless itu artinya manusia tidak berguna lagi (karena) semua pekerjaan digantikan oleh algoritma. Banyak yang bilang itu (revolusi) industri 4.0. Jadi era useless economy sebenarnya 4.0 itu. Terutama yang paling populer itu artificial intelligence (AI), tapi sebenarnya sumbernya adalah Internet of Things (IoT). IoT sumbernya big data.

Jadi di dalam IoT itu ada sensor. Sensor itu akan banyak menghasilkan data, itu namanya big data, cuma diotomasi oleh AI. Kalau itu sampai terjadi, memang hidup ini agak mengerikan.

Mengerikan untuk milenial atau untuk semuanya?

Untuk semua. Jadi kita sudah bicara peran robot dengan manusia. Jadi nanti, banyak peran manusia yang tergantikan oleh robot. Not only pekerja yang sifatnya berulang dan berpola, tetapi pekerjaan yang sifatnya enggak berpola yang itu kognitif.

Dalam seminar, saya pernah bilang tentang disruption. Saya tunjukkan video, misalnya sopir itu nanti hilang ketika misalnya (dikembangkan) self-driving cars. Jadi memang nanti penumpang agak lama, tapi barang itu sudah di depan mata. Jadi truk, kendaraan yang kalau tabrakan enggak (menghilangkan) nyawa masih bisa. Tapi sebenarnya di negara-negara Norwegia, Swedia, karena infrastrukturnya sudah bagus, itu enggak lama lagi mobil (itu) sudah enggak ada sopirnya.

Terus nanti, kurir akan digantikan oleh drone. Jadi mengirim untuk hal-hal kayak handphone, sudah pakai drone, dan itu tidak melibatkan manusia. Jadi kita ngeklik di Bukalapak misalnya, itu pengiriman 15 menit, dalam waktu 15 menit itu dia langsung perintahkan drone, langsung dikirim. Kalau robot enggak ada meleset. Kalau manusia, berantem sama istri, bisa terlambat kan. Ini kan enggak, pasti presisi.

Kemudian kasir. Kasir juga di Amazon, tahun 2017 sudah ada suatu pilotnya, dan nanti langsung di-scalling up ke seluruh dunia. Bayangkan nanti, Alfamart dan Indomaret udah enggak pake kasir ya. Pasti di awal-awal kayak Blue Bird. Jadi ada pergolakan regulasi, pemerintah enggak setuju. Tapi nanti akhirnya, gara-gara efisiensi akhirnya bisa diterima. (Contohnya) Ojol (ojek online --red) akhirnya diterima.

Di Amerika ada namanya Watson. Watson itu menggantikan dokter. Jadi, analisis kanker itu tidak dilakukan oleh dokter lagi, (padahal) sebenarnya bisa dilakukan manusia. Jadi peran dokter makin minimal. Pekerjaan yang kognitif itu biasa dilakukan. Kognitif itu kan mikir. Itu bisa dilakukan robot. Kalau robot zaman dulu, kita mindah peti kemas, itu polanya. Sekarang nggak. Lihat di pabrik, pasang sekrup kan polanya muter begini. Ini enggak kayak gitu, dengan machine learning dia belajar dan bisa sangat adaptif. Kemudian wartawan juga begitu. New York Times mulai pakai. Waktu ada pertandingan mulai ditulis. Itu hard news, kalau feature enggak bisa.

Konon katanya yang enggak bisa ter-distract (itu) perawat, karena dia pakai empati.

Pengamat Marketing/branding sekaligus Penulis Buku, Yuswohady berpose saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/4). [Suara.com/Muhaimin A Untung]
Pengamat Marketing/branding sekaligus penulis buku, Yuswohady berpose saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/4). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Yang ter-distract lagi kemudian pengacara. Pengacara kan fungsinya nyocokin apa yang ada di undang-undang dengan kasusnya. Dengan ada Siri, Siri kan ngomong udah enggak ngetik kan itu. Jadi informasi masuk lewat suara. Even pengacara juga bisa digantikan dengan algoritma atau machine learning. Jadi semua pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh machine learning AI.

Tentu enggak terus ekstrem. Misalnya dokter, enggak semuanya dokter hilang sama sekali. Ada sebagian dikerjakan robot, ada sebagian dikerjakan dokter. Jadi kerja sama. Pakar mengatakan, rules of the game-nya itu kerja sama antara robot dan manusia. Ada yang murni digantikan oleh robot, ada yang kerja sama antara robot dengan manusia.

(Jadinya apakah) Ke depan porsinya makin robot?

Porsinya akan banyak ke robot. Itulah yang disebut useless economy. Itu konsekuensinya ke ekonomi. Kalau ilmu ekonomi itu, ada kapital dikalikan dengan tenaga kerja, ya output Produk Domestik Bruto (PDB)-nya dihasilkan dari pabrik (yang) ada orang. Nantinya (ketika) orang digantikan robot, isinya cuma kapital. Jadi output hasilnya lebih banyak, dengan orang lebih sedikit atau malah enggak ada orangnya, karena semuanya jadi pabrik dan pabrik itu dikendalikan oleh AI. Jadi kalau enggak ada labor (pekerja), enggak ada gaji kan. Kalau kita beli mesin, kan menghasilkan itu return-nya. Kalau aku hire labor kan dapat gaji... Kalau enggak ada orang, enggak ada gaji.

Ini sangat menyedihkan. Sekarang dunia dikuasai, kalau di Amerika (ada) Big Four. Kalau di Asia enggak jauh dari Alibaba dari China. Amerika itu (ada) Google, Amazon, Apple, Facebook. Kecenderungannya Facebook akan sama dengan Google, Google akan sama dengan Amazon. Karena teknologi semua akan sama, dan yang namanya mesin tadi dikuasai orang yang mampu beli. Jadi output tadi kan, awalnya ada mesin sama orang kan, tapi orangnya digantikan robot, maka yang dapat output gede siapa? Ya, orang yang mampu beli mesin. Bahkan skenarionya lebih ekstrem: dunia dikuasai oleh Mark Zuckerberg, Bill Gates, Steve Job, Elon Musk, (karena) dia menguasai robotnya. Jadi mengumpul duitnya. Karena duitnya dinikmati yang punya robot kan, dan yang punya robot enggak banyak; itu kapitalis dunia yang ada di Sillicon Valley. Sebagian besar masyarakat itu karena tergantikan oleh robot, dia (jadi) enggak punya gaji. Kalau enggak punya gaji, makannya gimana? Sementara kekayaan terhisap segelintir orang, hanya 1 persen, orang yang punya mesin itu. Maka nanti diperkirakan ekonominya subsidi silang. Kekayaan Mark Zuckerberg diambil 90 persen oleh negara, terus didistribusikan ke orang yang enggak punya gaji. Kalau enggak didistribusiin itu (bisa) terjadi riot, terjadi demonstrasi massal.

Sekarang udah kejadian. Jeff Bezos, akhir tahun (kekayaannya) 150 miliar dolar AS atau setara Rp 1.500 triliun, setara APBN. Itu satu orang, dan kecenderungannya monopolistik. Kalau dia punya kapital, dia mulai nyaplok-nyaplok. Itu kejadian. Google nyaplok-nyaplok, termasuk Google nyaplok Gojek. Sehingga, itu ngumpul di segelintir orang yang punya kapital. Itu skenario enggak jauh juga, mungkin 30-50 tahun, jadi mengerikan.

Saya sendiri yang konsultan brand kerjanya meneliti, enggak juga. Jadi karena ngambil data itu kerjanya sebelumnya. Kita kan kerjanya market research. Kayak polling lah; bikin kuisioner, diisi, bikin coding dikumpulkan, disimpulkan, bikin grafik, terus ini naik-turun. Strateginya begitu. Itu nanti ambil data pakai sensor. Misalnya kita pakai handphone, kita lari, smartwatch ini data semua ada. Kita beli (pakai) digital payment, itu untuk pengeluaran saya sehari, seminggu, sebulan, itu ada. Dan itu available di Google, Apple. Data itu dikuasai, sehingga dia itu ngerti aku tuh gajiku berapa, belinya berapa. Kalau dulu, ditanya pakai survei, ditanya aja mungkin keliru. Tapi kalau sensor ada datanya, dan enggak pernah keliru, karena itu data riil. Data ini sampai kiamat enggak akan hilang. Ada di Samsung, sehingga Samsung mau bikin analisis bagaimana pola saya dalam lari atau apa nanti, dia mau bikin produk apa untuk kesehatan atau apa, dia bisa. Itu yang dilakukan oleh konsultan pemasaran.

Pengamat Marketing/branding sekaligus Penulis Buku, Yuswohady berpose saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/4). [Suara.com/Muhaimin A Untung]
Pengamat Marketing/branding sekaligus penulis buku, Yuswohady berpose saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/4). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Apakah itu salah satu Big Data?

Ini Big Data kan, jadi semua orang nanti enggak bisa luput dari sensor. Ini pakai handphone ada sensor. Dia tahu kita ada di mana, pakai Google Maps segala macam. Jadi orang udah enggak bisa sembunyi, semuanya kecatat. Itu yang namanya Big Data itu. Sekarang saya beli barang kalau pake cash, enggak kecatat. Kalau pakai Go-Pay, digital payment, Go-Pay ada datanya, sejauh saya pakai Go-Pay terus. Dan kalau kecatat, sampai kapan pun enggak bakal hilang. (Itu) Namanya digital footprint. Kalau sudah begitu, perilaku kita sudah teramati, sudah terpola, bisa di-mapping siapa pun yang bikin produk dan ditawarkan ke kita. Kalau kayak gitu, saya enggak berfungsi lagi sebagai (pekerja) riset. Riset itu udah enggak berfungsi lagi kalau kirim kuisioner mati. Tapi ada pekerjaan baru lagi. Itu Gen X enggak bisa; yang bisa milenial dan Gen Z.

Ini memang sudah 2010. Kalau Thomas Ridman udah 2007, tapi gampangannya 2010. Sejak 2010, apa pun itu memang dunia kita digital. Ketika satu sama kosong, maka aktivitas kita akan tercatat implikasinya apa ke kompetensi. Tadi kan ke pekerjaan, nanti coding dan programming. Zaman Gen X itu baca sama berhitung. Kan kita minimal anak kita bisa baca dan berhitung. Kalau berhitung bisa berhitung duit, atau baca, ada kayak gini tulisan bisa baca. Nantinya memang di era digital, itu coding dan programming, orang yang enggak bisa itu buta huruf. Jadinya buta hurufnya digital, ketika dia enggak bisa coding dan programming, (sementara) semua orang akan bisa. Karena apa yang kita lakukan didigitalisasi.

Kalau kita ngomong disruption, kita enggak mau ngomong jangka panjang, kita enggak ngomong 5 tahun lalu. Saya (dulu) enggak kebayang ada mobil enggak ada sopirnya. Bagaimana itu? Enggak kebayang bagaimana geraknya acak gitu, dia bisa menghindar, bisa itu. Ketika dia di jalan bebas, dia bisa dengan sensor. Saya terus terang 5 tahun lalu enggak kebayang, sekarang (malah) kejadian.

Ya, memang kalau kasus Indonesia susah, banyak orang. Tapi (di) negara yang tertib kayak Singapura memungkinkan. Indonesia juga enggak kebayang Thamrin bisa begini, (ada) MRT enggak kebayang. Sekarang itu Indonesia kayak Singapura. Artinya, perubahan itu cepat sekali. China 10 tahun lalu masih terbelakang, sekarang udah bisa sama kayak Amerika. Makanya, kita enggak bisa bilang. Ini kecepatannya eksponensial, jadi bukan entermental. Jangan bilang ini 30-50 tahun lagi, bisa jadi 3 tahun lagi. Misalnya kayak tadi, nanti kasir hilang semua. Amazon sudah kayak gitu. Aku mikirnya 10 tahun lagi, eh tahunya... sudah ada. Jadi dia cuma pakai begini, sensor kayak Go-Pay. Dia ngambil barang langsung debet.

Jadi hidup kita enggak bisa lepas dari sensor. Kita akan diamati oleh sensor. Makanya penjahat segala macam enggak bisa lari. Itu belum yang blockchain. Blockchain transaksi bukan antar negara, antar perusahaan, tapi antara individu. Kita kalau ke Singapura, nukerin ke dolar. Tapi kalau pakai Bitcoin, orang Singapura kirim barang ke kita, kita kirim Bitcoin, transaksinya namanya blockchain. (Itu) Udah enggak pakai negara, antara orang ke orang.

Nanti adanya gig economy, semua orang akan jadi freelancer. Jadi misalnya Anda di Suara.com enggak pernah masuk kerja, Anda nanti reporting. Terus begitu tulisannya sudah (jadi), transaksinya, kan bayar. Masing-masing orang akan banyak transaksi kan. Seseorang reputable apa enggak (itu) akan muncul dari serangkaian transaksi itu, sehingga orang enggak bisa bujuk. Artinya, nanti era gig economy, kita kerja enggak ke perusahaan. Kita kerja ke yang ngasih pekerjaan, dan dilakukan dengan efisien dan bisa di mana saja, dan perusahaan mana saja, perusahaan unblunding, semua by project. Itu mereka kerjain. Transaksi di blockchain, begitu selesai, dia bayar duit, terjadi selesai diterima. Satu orang reputasinya akan ditentukan oleh transaksi blockchain. Makanya blockchain akan mengubah semuanya. Negara enggak ada, perusahaan enggak ada. Ini memang ngeri.

Seberapa parahkah ancaman itu, dan bagaimana cara mengantisipasinya? Bagaimana pula dengan ancaman milenial yang disebut bisa membunuh segalanya? Simak di laman berikutnya..!

Selanjutnya chevron_right

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini